UNTAIAN DO’A UNTUK SEORANG SASSIE KIRANA Maret 17, 2009
Posted by elindasari in puisi.Tags: Adik, Do'a, Puisi Do'a untuk sahabat, Sahabat, Sassie Kirana
19 comments
Para pembaca & Sahabat blogger tercinta, postingan puisi kali ini secara special saya bingkiskan buat Adik kita, sahabat kita “Sassie Kirana”. Semoga Sassie berkenan menerimanya dan terhibur.

Senyum Sassie Kirana
Photo diambil dari http://sachzqirana.wordpress.com
UNTAIAN DO’A UNTUK SEORANG SASSIE KIRANA
Sassie,
Tak kuasa air mata keharuan ini mengalir tak terhelakkan,
Sa’at kubaca untaian kata-kata tegar yang kau goreskan,
Letupan semangat yang tetap membara,
Meski terkadang mendung menerpa jiwamu,
Deru ini seakan membentang cakrawala,
Hanyutkan aku akan hening yang terkoyak,
Sassie,
Meski ku hanya bisa mengunjungimu lewat maya,
Kucoba sisipkan untaian do’a,
Di celah rongga jiwaku yang juga mungkin tak perkasa,
Namun dibalik lirih hatiku yang resah,
Ku hanya khawatirkan dirimu,
Yang tak tahu keadaanmu hingga kini sepenuhnya,
Sassie,
Biarlah lantunan ini mengalun,
Menguntai ucap yang mungkin menyentuh,
Tatkala tubuhmu lelah tak dirasa,
Sa’at jiwa terkadang melanglang buana,
Merentang langkah menyisir sepi,
Pada buaian hangat yang membahana,
Sassie,
Kucoba menggapai angan dan impianmu,
Kucoba menghiburmu tuk memadu tawa,
Melebur hatimu menopang gigih tegarmu,
Tuk selalu menyemangati harimu,
Karna senyumku hanyalah untaian do’a untukmu,
Ya, Tuhan…
Tetaplah berikan keceriaan untuk Sassie,
Tetaplah beri ketegaran pada Sassie,
Tetaplah kau hadirkan senyum indah Sassie,
Hingga kami tetap bisa melihat Sassie,
Menikmati indahnya lukisan pelangi yang KAU hadirkan buat seorang Sassie,
Tuk sekedar menatap gemerlap indahnya cakrawala dunia bersama seorang Sassie,
Tuhanku,
Dalam derai tulus-MU,
Dalam balutan do’a ku pada MU,
Berilah kesembuhan untuk adik kami, sahabat kami,
Seorang “Sassie Kirana”
Amien
Puisi ini dibingkiskan special buat :
Adik kami, sahabat kami tersayang “Sassie Kirana”
“Semoga cepat sembuh, tetap Tegar & Semangat”
Selangsah Asa Do’aku Februari 9, 2009
Posted by elindasari in puisi.Tags: Asa, Do'a, Selangsah
10 comments

Kala seberkas sinar terbersit jatuh di padang ilalang,
Tersentak aku terjaga dari bauian impian,
Aku menapakan langkah menyususuri sungai MU,
Tuk coba menemukan kembali kegaiban MU,
Suara jengkrik berceloteh riang menyusup…mengeletarkan hati,
Kegaduhan yang timbul terasa begitu hening,
Seakan diam…seakan tak bernyawa…sunyi dalam ramai,
Kurasa hanyalah aku sendiri kini,
Tuhanku,
Ampunkan hamba ini,
Andai KAU rasa aku mengusik istirahat Mu,
Karena dada ini seakan hendak meledak,
Menahan berjuta ritme yang menggemuruh,
Karena lama menahan rindu untuk MU,
Tuhanku,
Betapapun aku kadang jauh dari MU,
Coba Kau isyarakatkan padaku,
Bahwa Engkau selalu ada disampingku,
Seperti yang tertulis dalam ayat-ayat firman MU,
Laksana Matahari, Bintang dan Rembulan,
Menyirami dan melegakan jiwa ini,
Yang kadang terasa dahaga dikala hujan.
SKETSA “MENTARI EMAS” Desember 12, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Do'a, Emas, Hati, mentari, Tuan, Tuhan
6 comments

Kusketsa mentari emas yang congkak,
Kokoh berdiri menikam laut,
Meski akan tenggelam di ufuk cakrawala,
Berteman senja nan mulai turun memekat,
Angin seakan mati, lautpun sekonyong terpukau,
Henyak terdiam, hening menyelimuti alam,
Bumi terdiam, sunyi sepi mencekam,
Seakan menunggu keputusan sakral,
Menunggu torehan alam,
Haus tuk melukis sketsa wajah bijaksana,
Mentari emas,
Aku tak habis mengerti,
Mengapa jerit hati mereka seakan tak bersuara,
Ratap jiwa mereka sekan lenyap di telan dahaga,
Dirundung gemuruh gundah gulana tak terperih,
Ratap hatiku coba mengetuk dirimu,
Jelmaan manusia mentari emas,
Mungkin lewat segumal nyanyian,
Aku dapat menyusup kalbumu,
Ku susun huruf, kurangkai kata,
Sekedar menguak jendela hatimu,
Jendela hati kita semua yang mungkin bisa terbuka,
Tuk sekedar mendengar keluh mereka,
Jeritan kecil, manusia-manusia kecil nan renta,
Berwajah kusut masai kala terpanggang getir,
Tinggal di kaki langit, disela pilar rumput yang semakin menghimpit,
Digerus zaman yang mulai tak banyak tuan,
Dikurung berjuta mata yang menatap hilang dan hampa,
Tuhan,
Kuserahkan jiwa raga mereka lewat titah-Mu,
Tuk merubah hitam putih potret kelam tanah ini,
Tuk mengobati pertiwi dan selaksa jiwa manusia,
Yang mulai kerdil menikam tak berhati,
Mulai congkak bersinar bak Mentari Emas nan panas,
Tuhan,
Dengar do’a kami,
Arahkan mata hati mereka,
Yang bermain di perlehatan negeri ini,
Agar mereka tak selalu tutup mata,
Yang tak mampu mendengar jerit hati perih mereka,
Yang terkalahkan karena keadaan & kondisi,
Yang terabai oleh waktu yang tergerus zaman,
Yang selalu memerah luka, tersiksa kefakiran,
Karena jejak dibakar sketsa “Mentari Emas”
DO’A BIK MARYAM (SI PENJUAL TAPE) September 23, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Do'a, Tape, Singkong, Prabumulih, Wanita Cantik, Allah, Maha Tahu, Sempurna, Australia, Maryam, Bibik, Sumbagsel, Pertamina, SMP
7 comments
Waktu saya duduk dibangku SMP orangtua saya pernah dinas di daerah Pramulih Sumatera Selatan. Kota ini tidak terlalu besar, namun cukup ramai menurut saya, karena di kota yang berjarak tempuh +/- 1.30 jam dari kota Palembang ini merupakan salah satu tempat pengeboran dan pengilangan minyak dan gas bumi untuk Pertamina Sumbagsel.
Di kota ini saya dan keluarga saya mengenal Bik Maryam yang profesinya sebagai pembuat sekaligus penjual tape. Karena tape yang dibuat & dijualnya terkenal enak, jadi kami sekeluarga menjadi salah satu pelanggan tetapnya. Beliau atau lebih sering saya panggil dengan sebutan Bik (panggilan untuk orang Sumatera untuk wanita tengah baya yang kita hormati dan sejenisnya meskipun tidak ada ikatan darah) “Maryam” adalah seorang janda dengan lima orang anak.
Maklum almarhum suaminya sudah meninggal dunia ketika anaknya yang bungsu masih berusia +/- 3 tahun. Sedangkan yang sulung sa’at itu sebaya kakak saya yang pertama (kira-kira SMP). Tapi sayangnya karena keadaaan financial beliau yang sulit anak lelakinya yang pertama tidak melanjutkan pendidikannya dan memilih menjadi tukang angkut barang di pasar Prabumulih untuk membantu ibunda menghidupi ke empat orang adiknya.
Cinta Yang Tak Lekang Dimakan Waktu Juli 4, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Anak-anak, Cinta yang sesungguhnya, Do'a, Inspirasi, kekuatan, luar biasa, menakjubkan, mukjizat
7 comments
“Cinta,., o…o…o…cinta….” Itulah penggalan syair yang hit di era 70-an yang pernah di dendangkan olah tante Titiek Puspa. Sungguh menakjubkan makna yang tersirat didalamnya.
Kalau mengulas topic yang satu ini bisa membuat kita jadi mabuk kepayang. Tapi ada juga gara-gara cinta bisa membuat orang jadi lupa segalanya. Kasihan deh. Ups…. Kali ini saya coba bercerita tentang cinta yang tulus, tentang kesetiaan yang tulus, yang tak lekang di makan waktu. Cinta yang sesungguhnya.
Menjelang hari Pernikahannya, Tania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki pujaanya. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang. Papa, Mama, kakak-kakaknya, tetangga, dan teman-teman Tania. Mereka ternyata sama herannya akan pilihan Tania ini.
(lagi…)

