CINTA Maret 11, 2009
Posted by elindasari in puisi.Tags: Asmara, cinta, Jatuh Cinta, puisi cinta, Puisi tentang Cinta, Rahman
19 comments
Pembaca sekalian, pagi ini kembali ketika saya membaca
sebuah komentar dari seorang blogger bernama Rahman,
yang katanya sedang dilanda cinta….(duch senengnya),
kembali pula saya mendapatkan pesanan khusus.
Rahman minta dibuatkan puisi tentang suasana hatinya ini.
Ok, buat Rahman selamat menikmati puisi yang sengaja
saya persembahkan buatmu.
Mudah-mudahan puisi ini mewakili hasrat hatimu yang
sedang bergelora asmara.
Sedangkan buat blogger yang lain, silahkan menyimaknya juga.
Semoga para pembaca sekalian juga ikut terhibur.

CINTA
Alunan kata-katamu,
Membuat aku tertegun mendengarnya,
Hatiku bertaluh rindu,
Adakah kau rasakan perasaan yang sama denganku ?
Adakah kau rasakan keinginan seperti ini juga ?
Aku hanya menginginkan Cinta,
Aku memendam berjuta kerinduan padamu,
Andai kau mengerti,
Kasih sayangku ini hanya untukmu,
Mungkin aku tak mahir berkata-kata,
Mungkin aku tak pandai tuk melukiskannya,
Tapi bila kau rasakan mentari yang hangat,
Bila kau tatap kerlip bintang yang gemerlap,
Itulah gambaran keindahan cintaku,
Yang tulus dari hati ini untukmu,
Percayalah,
Aku tak mungkin bisa melupakanmu meski sekejap,
Karena kaulah dermaga yang terakhir bagiku,
Kasih,
Engkaulah belahan jiwaku,
Karena disisimu kutemukan sejuta kedamaian,
Kuharap,
Semoga secercah sinar kasih yang kau miliki,
Hanyalah untukku,
dan,
Takkan pernah hilang selamanya,
Abadi selamanya !
Akan Kubawa Bintang Kejora November 18, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Asmara, Bintang kejora, Bunga, cinta, Mimpi, Puisi romantis
6 comments
Mengapa ku tak melihat,
Apa yang aku pikirkan,
Semuanya sudah terbuka,
Semuanya dapat terbaca dimataku,
Mengapa ku tak peduli,
Isyarat yang pernah dikirimkan,
Lewat sejuta puisi, dengan selaksa bunga,
Tapi,
Aku tetap diam membeku,
Ku tepiskan mimpi-mimpiku,
Kuhunus pedang cinta hingga berdarah,
Kupekikkan asmara dalam dada,
Namun hanya dengan diam,
Hem,
Semula ku memang tetap diam,
Kemudian ku mulai tersenyum,
Kuberjanji,
Akan kupetik bintang kejora,
Untuk kusematkan,
Didadaku,
Dijantungku,
Mengapa,
Mengapa hanya namanya kini,
Terpatri dalam jiwaku,
Haruskah aku menyerah,
Sebelum aku coba semuanya,
Namun aku tetap diam membeku bukan tanpa kata,
Ku tepiskan mimpi-mimpiku yang lalu,
Kuhunus pedang cinta tapi kali ini tak berdarah,
Kupekikkan asmara namun tak lagi hanya di dalam dada,
Karena ku telah berjanji,
Akan Kubawa Bintang Kejora,
Untukmu….
MAMPUKAH ANDA MENCINTAI PASANGAN ANDA TANPA SYARAT ? September 5, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: cinta, jasmani, Keikkhlasan, kekayaan, memberi, mencintai, menerima, perhatian, rohani
6 comments
Di hari dan bulan yang suci ini, saya mau berbagi cerita tentang “keikhlasan” yang saya dapatkan dari pengalaman / kisah nyata seseorang.
Tentu saja kalau kita bicara tentang keikhlasan, semua itu akan kembali kepada keikhlasan seseorang terhadap dirinya sendiri, ya nggak ?.
Seorang bapak yang sudah berusia tidak muda lagi ini, pernah mengutarakan kisahnya, tentang “Mampukan kita mencintai pasangan kita tanpa syarat”.
Menurut saya kisah beliau ini sangat menarik dan semoga dapat menjadi bahan renungan. Nah para pembaca penasaran bagaimana kisah beliau, mari disimak yach.
Ditinjau dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Kita sebut saja nama beliau disini sebagai “Bapak Harun”. Usia bapak Harun ini sekarang sudah menginjak +/- 60 tahun. Keseharian kegiatan beliau selain sebagai pencari nafkah juga harus diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Sekarang ini usia istrinya juga sudah tua, karena jarak usia mereka tidak jauh. Mereka sudah menikah lebih dari 32 tahun.
Pasangan ini telah dikarunia 4 orang anak. Nah, disinilah awal cobaan menerpa kehidupan mereka yang terbilang sangat menyenangkan dan membahagiakan pada sa’at itu, karena mereka menerima “kekayaan” dari sisi jasmani, rohani dan financial.
Cerita ini dimulai setelah istrinya melahirkan anak mereka ke empat. Tiba-tiba kaki isterinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, dan hal itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuh isterinya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang, lidahn isterinyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Sungguh keadaan kesehatan yang memprihatinkan bagi isterinya.

