BERKREASI DENGAN KALENG BEKAS Agustus 12, 2009
Posted by elindasari in Belajar.Tags: berkreasi, Bermanfa'at, Celengan, Go green, Kaleng Bekas, Kreasi, Melukis, Seni, Tempat Tisu
16 comments
Setelah sekian lama saya nggak sempat mempostingkan tulisan diblog saya, kali ini saya ingin kembali mengajak para pembaca, para sahabat blogger yang mungkin juga senang berkreasi dengan barang-barang yang biasanya sering teronggok / kita buang begitu saja di tempat sampah menjadi sesuatu yang masih berguna. Pikir-pikir refeshing sambil menyalurkan kegemaran melukis. Ada yang ingin mencoba juga ?
Caranya sangat mudah, hanya dengan sedikit kejelian dan kreasi maka saya siap mengajak para pembaca mengubah barang-barang yang tidak terpakai tersebut jadi barang yang lebih bermanfa’at. Ada yang masih penasaran yuk kita kupas.
KREASI KALENG BEKAS MENJADI TEMPAT UANG (CELENGAN) & TEMPAT TISU

celengan

tempat tisu
Bahan yang diperlukan :
1. Kaleng bekas susu ukuran 400 ml qty : 1 bh
2. Cat pilox (warna boleh apa saja, yang cerah) utk cat dasar qty : 1 klg
3. Spidol snowman paint (warna hitam, warna gelap) utk melukis / menggbr qty : 1 buah
4. Koran bekas (untuk alas mengecat) qty : 1 lbr
Catatan:
Cat pilox untuk 1 kaleng 400 ml bisa dipakai untuk +/- 10 kaleng.
Spidol snowman paint bisa dipakai untuk +/- 10 kaleng.
Alat-alat yang dipakai :
1. Cutter qty : 1 bh
Estimasi biaya :
1. Kaleng bekas susu ukuran 900 ml qty : 1 bh x Rp. 0,-
2. Cat pilox 400 ml (warna cerah) qty : 1 klg x Rp. 18.000
(bisa utk bebarapa buah hasil kreasi +/- 20 buah)
3. Spidol snowman paint (warna hitam /gelap) qty : 1 bh x Rp. 15.000
(bisa utk bebarapa buah hasil kreasi +/- 20 buah)
4. Koran bekas qty : 1 lbr x Rp. 0,- = Rp. 0,-
TOTAL Rp. 33.000,-
(bisa utk bebarapa buah hasil kreasi +/- 20 buah hasil kreasi, lumayan hemat bukan ?)
Cara membuat :
1. Kaleng bekas dibersihkan terlebih dahulu (bisa dicuci dan dijemur hingga kering)
2. Kaleng yang sudah bersih lalu di cat menggunakan cat pilox. Sebelum menyemprotkan cat pilox, kaleng cat pilox dikocok beberapa kali agar cairan cat di dalam kaleng rata. Semprotkan cat secukupnya saja, (tidak perlu tebal) tapi rata ke semua permukaan kaleng.
3. Lalu kaleng yang sudah dicat tadi jemur di bawah sinar matahari hingga kering beralaskan koran.
4. Setelah kering kaleng tadi siap di lukis /digambar dengan menggunakan spidol snowman paint. Caranya kocok terlebih dahulu spidol sebelum digunakan untuk menggambar. Lalu buatlah gambar yang menarik sesuai tema yang anda inginkan.
5. Setelah selesai dilukis / digambar, lalu tutup kaleng dilubangi dengan “LURUS” sepanjang +/- 4 cm , lebar 0,5 cm dgn menggunakan cutter untuk lubang masuk uang kertas / logam (Utk celengan),
6. Setelah selesai dilukis / digambar, lalu tutup kaleng dilubangi dengan diameter +/- 4 cm dgn menggunakan cutter untuk lubang tisu (Utk Celengan)
7. Pasang tutup yang sudah dilubangi tadi sebagai penutup kaleng.
8. Selesai.
Yuk, kita lihat foto-foto mulai dari bahan, proses pengecatan, prose melukis kaleng dan hasil akhirnya !
- celengan
- Kaleng Bekas
- setelah di cat dijemur
- pasang tutup
- dilukis
- mulai dilukis
- sudah selesai dilukis
- hasil kreasi
- tempat tisu
- celengan
- tempat tisu
Nah, sekarang bisa dilihat hasil kreasi utk tempat tisu dan celengan, cukup menarik bukan ?.
Ok, semoga bermafa’at & memberi inspirasi. Jika ada yang masih kurang jelas, bisa meninggalkan jejak di komentar, selamat mencoba & berkreasi !
RAHASIA PANGERAN (bag 5) Februari 3, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Celengan, hadiah, Ita, pangeran, Rahasia, sepeda mini, surprise, Tabungan, ulang tahun
8 comments
(Bagian 5)
Keesokkan harinya , sekitar jam 3 sore, aku, suami dan pangeran sudah
tiba di depan rumah ibu Ita. Tapi keadaan rumah tampak sepi dan
lenggang saja.
”Assalamualaikum”, ujarku, pangeran dan suami hampir berbarengan.
Sekali lagi kami mengulanginya, ”Assalamualaikum”
Tapi lagi-lagi kami tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah.
Lalu aku berinisiatif untuk bertanya kepada seorang tetangga yang berada
selang dua rumah dari rumah bu Ita. Kebetulan ibu ini sedang duduk-
duduk di terasnya.
”Ma’af bu… mau tanya, apa ibu tahu ibu Ita ada di rumah nggak ?”, tanya
saya kepada ibu ini.
”O, ibu Ita sudah sekitar 4 bulan ini pindah dari sini bu”, jawab wanita
ini pendek.
”O, begitu, ibu tahu nggak keluarga ibu Ita pindah kemana ?”, tanya
saya lagi kepada ibu ini.
”Hem…”, wanita ini tampak ragu menjawab pertanyaan saya.
“Ma’af bu…saya Bintang, kebetulan anak saya Pengeran adalah muridnya
bu Ita, saya ingin mengantar sesuatu buat ibu Ita. Apa ibu bisa kasih tahu
alamatnya bu Ita ?”, kali ini saya mencoba menyakinkan kepada mantan
tetangga bu Ita ini maksud kedatangan saya.
“O, begitu…Yach, sebentar dulu yach neng, saya coba tanyakan dulu ke
anak saya, rasa-rasanya pernah nyimpen alamatnya bu Ita, pas tempo
hari pindahan”, ujar wanita ini lagi bergegas meninggalkan kami sejenak.
Tak lama kemudian wanita ini kembali dan menyodorkan secarik
kertas, ”Ini neng alamatnya”.
”Wah, terima kasih banyak yach bu, kalau begitu kami pamit dulu, mau
langsung kesana”, ujar saya mengakhiri percakapan dengan wanita ini.
****
Ternyata agak susah juga mendapatkan alamat ini. Tak kurang dari
setengah jam perjalanan kami tempuh. Jalan menuju alamat ini agak
sempit dan banyak lubang. Kami sempat bertanya beberapa kali dalam
perjalanan kepada beberapa orang yang kami jumpai. Berbeda sekali
dengan rumah bu Ita sebelumnya.
Dalam perjalanan kesini, Pangeran mengutarakan kalau bu Ita memang
pernah cerita akan pindah ke kontrakan yang baru, karena kontrakannya
sekarang akan dipakai oleh yang punya rumah. Oooo…
Akhirnya pencaharian kami berakhir disebuah rumah yang mungil tanpa
pagar di sudut gang. Rumah ini kelihatannya cukup rimbun. Pot-pot bunga
dari kaleng bekas tampak menghiasi pekarangan rumah dengan anggun.
Bunga kuping kancil dan sirih gading nampak merambat di dinding samping
rumah. Meski rumahnya mungil dan sederhana, namun tetap tampak asri,
gumamku dalam hati.
Tiba-tiba keluar sesosok bayangan dari sampingku yang membuat aku
hampir terperanjat.
”Cari siapa yach ?”, ujar seorang laki-laki yang keluar dari samping rumah.
”Assalamualaikum pak”, ujarku agak terbata menyambut kehadiran laki-laki
ini yang juga langsung dijawab salam olehnya.
”Pak, apa betul ini rumah ibu Ita”, tanya saya lagi.
”O, betul, ini siapa yach ?”, laki-laki ini balik bertanya kepadaku.
”Saya Bintang, ini Pangeran putra saya,…muridnya bu Ita”, lanjut saya
lagi mencoba menjelaskan.
”Ayo, masuk bu Bintang, ayo Pangeran”, ujar laki-laki ini ramah.
”Sebentar yach saya suruh anak saya untuk penggil bu Ita dulu ke masjid,
tadi lepas Zuhur kebetulan ada pengajian”. Biasanya sich…lepas Ashar
udah pulang kok”, ujar laki-laki ini lagi sambil meminta anaknya ”Ali” untuk segera menyusul ibunya ke masjid tak jauh dari rumah.
Tak lama kemudian kami melihat ibu Ita dan anakknya di ujung gang.
Aku, pangeran dan suamiku bergegas menurunkan sepeda mini buat bu Ita.
Aku sengaja mengajak suami bu Ita untuk membuat sebuah surprise kecil
buat isterinya. Kebetulan suaminya bu Ita setuju. (Hehehe…dasar iseng….)
Nah, tepat ketika bu Ita dan Ali tiba di depan rumah dan mengucapkan
salam, ”Assalamualaikum”, kami serentak menjawab ”Waalaikumsalam”,
dan muncul secara bersamaan.
Kontan saja bu Ita agak kaget atas kehadiran kami di rumahnya.
Lalu kami meminta ibu Ita untuk menutup mata dan mengarahkannya ke
samping rumah. Untungnya bu Ita langsung menurut saja, atas permintaan
kami yang spontan dan tiba-tiba ini. Bu Ita menutup matanya dengan
kedua belah tangannya.
”Nggak boleh ngintip yach bu !”, ujar suami bu Ita nggak mau kalah untuk
beri kejutan kepada isterinya.
”Teretet…sekarang bu Ita boleh buka matanya”, ujar Pangeran setengah
berteriak.
Dalam sekejap bu Ita melepaskan kedua belah tangan yang tadi menutup
mukanya.
Melihat hadiah sebuah sepeda mini buat dirinya bu Ita tak dapat menahan
titik air matanya. Mata ini seketika jadi berkaca-kaca.
Bibir bu Ita langsung berujar ”Terima kasih yach bu, Pak, Pangeran”.
”Ibu jadi malu”, ujar bu Ita lagi dengan wajah yang mulai merona.
”Bu Ita ini sekedar hadiah dari kami di hari Ultah Ibu”. ”Terima kasih atas
bimbingan ibu Ita selama ini buat pangeran”. ”Semoga ibu Ita dan keluarga
berkenan menerima hadiah sederhana ini yach bu”, ujarku mewakili
Pangeran dan suami sambil memeluk bu Ita, yang masih menangis haru
sekaligus bahagia menerima semua ini.
****
Setelah menikmati hidangan teh hangat dan bakwan sayur yang sengaja
dibuat bu Ita akan kehadiran kami, kami mohon pamit. Aku, pangeran
dan suami diantar bu Ita sekeluarga sampai di ujung gang tempat suamiku
memarkir mobil.
”Sekali lagi terima kasih yach pak, bu, pangeran”, ujar bu Ita dan suami
mengantar kepulangan kami.
Kami semua selambaikan tangan perpisahan sore ini dengan berjuta
perasaan di dada kami. Perasaanku kali ini sangat berbahagia, karena
ternyata dibalik Rahasia Pangeran kali ini, menyimpan peristiwa yang
sangat berarti bagi seorang bu Ita. Guru yang selama ini telah membimbing
putraku jadi gemar melukis seperti diriku. Sekali lagi terima kasih bu Ita
dariku dan pangeran kecilku. Semoga ibu Ita dan keluarga selalu berbahagia.
Cerita ini kupersembahkan buat :
“Ibu Ita Ayuningtyas dan keluarga”
Semoga cerita tersebut bermanfa’at & memberi inspirasi.
RAHASIA PANGERAN (bag 3) Januari 30, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Celengan, Iklan, Motor, pangeran, Rahasia, Sekolah
5 comments
(Bagian 3)
Pagi itu sengaja aku berangkat agak siang ke kantor karena akan berencana
akan langsung ke bank dulu, sehingga aku dapat terlebih dahulu mengantar
Pangeran ke sekolah.
Tiba-tiba kira-kira 200 meter lagi sampai disekolah pangeran berujar,
”Ma…ma…stop ma….itu ada bu Ita, diajak sekalian yach”.
Aku langsung mengurangi laju mobilku dan mulai menghentikan mobilku tak
jauh dari tempat yang ditunjuk Pangeran. Lalu aku bergegas membuka jendela
mobil. Ternyata benar, tampak bu Ita dan putranya sedang berjalan kaki
menuju ke sekolah. Kulihat wajah bu Ita dan anaknya penuh keringat.
Kebetulan hari ini matahari bersinar terang sejak terbit tadi, sehingga terik
pagi sudah mulai terasa sejak tadi. Apalagi kalau jalan kaki pasti lebih lagi
dech, alam pikirku mulai mengevalusi.
”Ayo, bu Ita ikut sekalian” ajakku kepada bu Ita dan dua seorang
putranya ini.
Lalu tak lama berselang terjadilah percakapan ringan antara aku dan
bu Ita.
(O, iya aku ceritakan sedikit…Bu Ita ini adalah ibu guru Pangeran
ketika masih duduk di kelas 1 SD. Kebetulan beliau juga merangkap
sebagai guru melukis untuk extra kurikuler di sekolah pangeran.
Jadi meskipun sekarang Pangeran sudah duduk di kelas 4 SD untuk
kegiatan ini pangeran masih dibimbing oleh bu Ita. Sedangkan suami
bu Ita yang saya tahu juga seorang Bapak guru di SMP, yang letaknya
berselang 1 kilometer dari SD tempat ibu Ita mengajar).
”Bu Ita kok nggak diantar suami bu”, tanyaku membuka percakapan dengan
bu Ita yang kutahu biasanya diantar naik motor oleh suaminya terlebih dahulu
ke sekolah SD, sebelum suaminya juga berangkat ke sekolah SMP dimana
suaminya mengajar.
”Sudah enggak bu, motor suami saya 4 bulan yang lalu hilang di pasar”.
”O..begitu bu…terus pencurinya ketemu nggak ?”, tanya saya lagi.
”Sudah susah bu nyarinya, saya dan suami sudah mengiklaskannya!”, jawab
bu Ita dengan mimik yang terlihat masih sedikit sedih.
”Yach, sudahlah bu Ita, Insya Allah Tuhan akan kasih rejeki yang lebih dari
sekedar motor, yach bu”, hibur saya kepada bu Ita.
”Amien, terima kasih yach mama Pangeran, semoga do’anya didengar oleh
yang di Atas”, kali ini bu Ita berujar dengan wajah yang berseri-seri.
Tak lama kemudian kami sudah tiba di sekolah. Sambil mengucapkan terima
kasih dan salam bu Ita dan anaknya meninggalkan aku. Tak ketinggalan juga
Pangeran mencium tanganku sebagai salamnya.
”Hati-hati dan belajar yang baik yach Pangeran”, pesanku singkat buat
putraku ini.
****
Tak terasa sudah lebih dari dua bulan setelah kejadian ini berselang, aku
melihat beberapa brosur produk beberapa supermarket berada di laci meja
belajar Pangeran. Aku perhatikan beberapa dari iklan ini sempat hilang
karena digunting.
(Hem…dasar anak-anak ada aja kerjaannya, gumamku dalam hati,
atas keisengan Pangeran yang mengumpulkan beberapa gambar yang
terlihat berseliweran dan acak-acakan di dalam laci meja belajarnya) .
Tiba-tiba ketika aku dan suami baru asyik duduk santai sambil membaca
beberapa majalah kesukaanku di teras belakang pangeran menghampiriku.
”Mama, besokkan guruku ada yang ulang tahun, aku mau kasih hadiah buatnya,
boleh yach Ma ?”, tanya Pangeran kepadaku dengan mimik penuh pengharapan.
”Yach boleh aza, memang siapa yang ulang tahun”, jawabku santai kepada
Pangeran.
”Besok itu yang ulang tahun bu Ita, Ma”, jawab pangeran bersemangat.
”Yach sekarang Pangeran mau minta ditemeni cari kado apa”, tanyaku lagi
kepadanya.
”Ma, Pa, antarin Pangeran nyari hadiahnya yach”, kali ini Pangeran mulai
bergegas berlalu dari pandangan aku dan suami.
”Ei…Pangeran…tunggu…”,sahutku tetapi tidak dihiraukan oleh Pangeran.
Aku dan suami hanya saling pandang. Otakku mulai berputar dan mencoba
menerka kekonyolan apa lagi yang akan dibuat Pangeranku kali ini. Ah…moga
aza nggak yang buat aku pusing, harapku mulai sedikit cemas.
Berlanjut….
****
RAHASIA PANGERAN (Bag 2) Januari 29, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Celengan, pangeran, Pooh, Rahasia, Tabungan, Teddy Bear, Uang
add a comment
(Bagian 2)
Dalam waktu sekejap aku sudah berada di atas. Aku bergegas masuk ke
kamar Pangeran. Kudapati Pangeran sehabis makan siang tadi, sedang
tertidur pulas sambil mendekap guling bermotip mobil balap kesukaannya.
Seperti maling yang takut ketahuan keberadaanya, aku mulai memeriksa
semua laci di lemari dan meja belajarnya.
Tapi aku tidak menemukan kedua celengan yang aku cari. Aku semakin
penasaran. Aku mulai membuka keranjang tempat mainan biasanya diletakkan.
Lagi-lagi aku tak menemukannya. Aku mulai kehilangan akal.
Aku memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Lalu aku mulai putus asa dan mulai menanyakan kedua celengan ini kepada
pembantu rumahku. ”An-an (maksudnya Ani, sebutan untuk pembantuku),
kamu lihat celengan Pooh dan Beruang Teddy yang biasa di atas meja
Pangeran nggak ?”.
”Wah udah agak lama saya nggak liat bu”. ”Bukankah biasanya diletakkan
di dekat meja belajar”, jawab pembantuku tak kalah bingung ketika aku
menanyakan hal ini.
”Hem, yach sudah, ndak apa-apa”, ujarku mengakhiri percakapan dengan Ani.
Mungkin suster pengasuh Rajiv (putraku yang kedua), mencoba menangkap
kebingunganku, dan mulai bertanya kepadaku:
”Ibu, cari apa bu ?”, tanya suster pengasuh Rajiv.
”Suster lihat celengan Pooh dan Teddy Bear yang biasa ada di meja belajar
Pangeran nggak”, tanyaku kepada pengasuh anakku yang kedua ini.
”Kalau nggak salah dipindahin Pangeran di lemari buku atas bu”, jawab
susterku ini lagi.
”O, yach sudah kalau begitu”, sahutku sambil segera kembali bergegas naik
keatas ingin membuktikan keberadaan kedua celengan itu.
Tak lama kemuadian aku mendapati kedua celengan yang kucari ini.
Celengan Teddy Bear teronggok di dalam lemari di rak paling bawah
berdampinan dengan Globe yang akhir-akhir ini sering dikeluarkan Pangeran.
Sedangkan celengan Pooh-nya diletakkan persis diatas piano dan sedang
menindih buku kesukaan Pangeran yang bertajuk ”Kisah 25 rosul”.
Tapi, lagi-lagi karena aku masih penasaran, sengaja aku mencoba mengintip
isi kedua celengan tersebut. Kuamati isinya memakai senter agar terang.
Tampaknya isi kedua celengan ini baik-baik saja, nggak berkurang, bahkan
sepertinya isi celengan Pooh hampir penuh sesak oleh uang.
”Alhamdullillah”, ujarku, karena terus terang tadinya aku sempat deg-degan
dan berpikiran yang agak jauh tentang Pangeranku ini. Hem…aku mengela
napas plogku.
Lalu aku sekali lagi menyempatkan masuk ke dalam kamar putraku ini. Dia
masih tertidur pulas rupanya. Mungkin dia kecapekan abis ku ajak pergi tadi.
Kuperhatikan raut mukanya yang tenang. Wajahnya yang lucu dan
mengemaskan. Rambutnya yang tebal tampak semakin hitam saja.
Kuperhatikan jari-jarinya yang dulu mungil, kini mulai pandai memainkan
tuts-tuts piano meski masih untuk lagu-lagu yang sederhana. Postur tubuhnya
tampak semakin tinggi.
Pangeranku yang dulu mungil, sekarang sudah mulai besar. Sudah menginjak
9 tahun. Aku sempat menyesali sikapku yang terkadang mulai kurang sabar
atas tingkah polanya, mungkin sejak keberadaan Rajiv (putra keduaku).
”Mama tidak bermaksud memarahimu, Ma’afin mama sayang”, kini aku
berujar lirih sambil tetap memandangi anakku yang tertua ini.
****
Suatu sore aku mendapati Pangeran sedang sibuk untuk mengelap 2 sepeda
Papanya dan 2 buah sepeda kesayangannya di teras belakang.
”Wah rajin sekali anak mama”. ”Nah, gitu dong sekali-sekali, kalau habis
main sepeda, sepedanya dibersihin, di lap, biar tetap tampak bagus dan
kinclong”. ”Itu namanya menghargai barang dan tanda anak yang bersyukur”,
ujarku bak kertea api, karena aku mulai menggoda Pangeran yang sedang
asyik dengan aktivitasnya.
”Harus dong”, timpal suamiku yang tiba-tiba muncul dari dalam menghampiri
aku dan Pangeran.
”Iya, iya, Pangeran tahu”. ”Ini sepeda harganya mahal, apalagi yang satu ini
lebih mahal dari yang ini, khan Pa”, ujar Pangeran terkagum-kagum atas
2 buah sepeda yang resmi jadi milikinya ini.
Kulihat suamiku tersenyum menanggapi perkataan Pangeran ini. Kulihat
suamiku mengusap beberapa kali rambut hitam Pangeran yang memang
semakin menggoda. ”Ayo papa bantu ngelap sepedanya”, ujar suamiku lagi
tanpa siap bergotong royong dengan anaknya.
Berlanjut….
****
RAHASIA PANGERAN (Bag 1) Januari 28, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Celengan, pangeran, Pooh, Rahasia, Teddy Bear
2 comments

(Bagian 1)
Matahari baru saja terbit, ketika Pangeran mencariku yang kebetulan sudah
tidak berada di lantai atas rumah kami. ”Mama, mama dimana ?”, teriak
Pangeran dengan suaranya yang khas agak bete ketika bangun tidur.
“Di belakang”, jawabku yang memang sejak sehabis sholat Subuh tadi
langsung menikmati berbagai macam tanaman di teras belakang rumah.
Dalam sekejap Pangeran bergegas menyusulku.
“Ma, Papa mana”, tanya Pangeran lagi.
“Sudah jalan-jalan naik sepeda”, kilahku singkat.
“Hem…Mama nggak banguni Pangeran sich, Pangerankan mau
sepedaan juga tadinya”, ucap Pangeran dengan muka yang mulai cemberut.
“Tadi Mama sudah banguni Pangeran, tapi Pangeran sendiri yang bilang
nggak mau ikut kan ?”, jawabku mencoba mengingatkan dia yang sedari
habis sholat Subuh langsung tidur lagi. Sebenarnya aku mulai agak kesal
dengan sikap Pangeran akhir-akhir ini. Pangaren kecilku ini agak ngampang
ngambek ketika keinginannya tidak dituruti.
(Hem dasar anak-anak, mudah sekali cembetut)
“Sudah sekarang buruan mandi, mbak Ani (pembantu rumah kami)
sudah nyiapin roti bakar isi keju kesukaanmu”, bujukku kepada putraku
yang paling besar dan telah memasuki usia 9 tahun dan sudah duduk
di kelas 4 SD ini.
*****
Tak lama berselang kami sekeluarga sudah menikmati sarapan pagi.
Tapi lagi-lagi aku masih melihat wajah Pangeran yang masih ditekuk.
Aku pura-pura tidak tahu saja. Aku khawatir kalau aku terlalu
memperhatikannya, anak ini semakin manja, begitulah gumamku dalam hati.
(Maklum semenjak kehadiran adiknya Rajiv (anakku yang kedua),
Pangeran sering bertingkah agak berlebihan menurutku. Tadinya aku
mengira perubahan sikapnya ini karena kehadiran adiknya. Jadi aku masih
memaklumi saja atas perubahan sikapnya ini).
Tapi akhirnya kesabaranku lepas juga, pada siang ini ketika kami berada
di toko Sepeda & perlengkapan baby, sa’at aku dan suami lagi konsent
memilih untuk membelikan sepeda dorong untuk Rajiv. Tiba-tiba :
”Ma, Pa aku juga ingin beli sepeda yach !”, ujar Pengeran mengutarakan
keinginannya. Sontak saja aku mulai marah pada putra tertuaku ini.
”Pangeran, dengar nggak ada sepeda lagi buat Pangeran”. ”Mama
dan Papa kesini mau beli sepeda dorong buat adik Rajiv”. ”Bukan
buat beli sepeda Pangeran”. ”Ayo sekarang Pangeran duduk manis
disana, jangan nakal”, ucapku mulai sewot bernada sedikit kesal,
sambil menyuruh Pangeran untuk duduk di kursi yang ada dipojok toko ini.
(Terus terang aku agak sebel dengan tingkah pola Pangeran untuk
ikutan minta dibeliin sepeda lagi. Karena baru 1 setengah bulan yang
lalu, Pangeran menerima lagi sebuah sepeda dari papanya).
Akhirnya aku dan suami dapat membeli sepeda dorong yang kami inginkan
buat Rajiv.
Tapi lagi-lagi aku dan suami mendapati wajah Pangeran yang cemberut
ketika kami hendak pulang. Sengaja aku menawarkan untuk membeli
pizza dan mampir ke restaurant kesukaan Pangeran dalam perjalanan pulang.
Aneh, pangeran kecilku kali ini menolak.
Pangeran hanya berujar pendek ”Nggak usah ma, pageran mau makan
di rumah saja”. ”Bener nich ?”, tanya suamiku lagi ingin menyakinkan pilihan
anaknya ini.
”Iya, pangeran mau makan di rumah aja Pa, Ma !”, kali ini mimiknya serius
akan pilihannya.
Suamiku hanya tersenyum melihat wajah putra tercintanya ini. Aku dan suamiku
hanya saling pandang akan sikap Pangeran yang agak lain dari biasanya ini.
Dalam hati sebenarnya aku mulai menyesal sudah mulai setengah marah
kepadanya, dan tawarku tadi semata-mata ingin menebus kekesalanku di
toko tadi terhadap pangeran kecilku ini. Ah, tapi lagi-lagi sikap putraku yang
tertua ini membuat aku mulai pusing kepala, dan jadi salah tingkah sendiri
sebagai mama.
****
Sesampainya dirumah sudah hampir jam dua siang. Aku dan suami bergegas
untuk makan siang. Tapi, Pangeran belum nampak di ruang makan.
”Pangeran, buruan makan dulu, nanti sakit lho”, bujukkku kepadanya.
”Iya sebentar !”, jawab Pangeran pendek.
Ketika kami mulai bersantap, Pangeran berujar:
”Pa, nanti kasih Pangeran uang sepuluh ribu yach, karena Papa belum
kasih Pangeran uang 2 hari, ujar Pangeran penuh pengharapan sambil
mengambil udang goreng tepung kesukaannya.
”Iya, nanti habis makan”, jawab suamiku singkat.
”Mama juga, mama belum kasih Pangeran uang 3 hari, jadi Mama kasih
Pangeran Lima belas ribu”, tagih Pangeran kepadaku laksana tukang kredit
yang belum mendapat setoran customernya.
”Udah-udah makan dulu, nanti keselek lho”, ujarku berkilah karena aku
memang mulai pusing setiap hari diminta uang sebesar lima ribu rupiah oleh
Pangeran yang katanya akan dimasukkan kedalam celengan Pooh-nya di kamar.
(Aneh kenapa Pangeran sangat getol menagih sejumlah uang, yang
katanya untuk ditabung yach ?, aku mulai curiga akan sikapnya yang
mulai disiplin untuk hal yang satu ini. Ada apa yach, bukankah
Pangeran kecilku ini sudah punya satu celengan beruang Teddy
di atas meja belajarnya).
(Hem…lagian bukankah untuk mengisi satu celengan itu saja dia
sebelumnya agak malas, malah aku yang sering mengingatkannya
untuk rajin menabungkan uang sakunya. Tapi mengapa sekarang
dia sangat telaten dengan celengan Pooh-nya yang satu lagi).
(Untuk apa uang itu…. Ah, aku harus periksa jangan-jangan…
Aduh… pikiranku sekonyong-konyong mulai memikirkan hal-hal
yang buruk sedang menimpa putraku ini. Oh, no…no…..no…..aku
harus cepat-cepat naik dan periksa kamar dan celengannya, pikiranku
mulai sesak karena dijejali pikiran yang aneh-aneh…)
Berlanjut….
****










