Sepasang Bocah Itu… Desember 12, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Berbagi, Istimewa, kerabat, pangeran, pesta ulang tahun, sepasang bocah, special, Tamu
31 comments
Dua hari lagi pengeran kecilku akan merayakan ulang tahunnya yang ke
delapan. Saya sudah menjanjikan padanya sebuah pesta kecil dirumahku.
Tapi meskipun hanya keluarga dan kerabat terdekat yang saya undang,
saya ingin pesta ulang tahun putraku kali ini dapat memberi sesuatu yang
istimewa untuknya.
Saya sudah merancang kira-kira session acara yang akan kami mainkan
bersama, menu apa yang akan kami santap dan beberapa hadiah kecil
lainnya yang menurutku bisa menambah kebahagiannya.
Untuk mengurangi kerepotanku sengaja untuk beberapa jenis makanan
saya pesan dari restaurant, termasuk kue-kue kecil kesukaan pangeranku
dan suamiku. Amboi saya sudah membayangkan pesta itu pasti asyik
punya, hehehe….
Lalu, hari yang dinantikanpun tiba. Taman dan pernak-pernik termasuk
makanan dan kue-kue sudah datang dan ditata rapi oleh pengasuh dan
pembantu rumahku. Beberapa alat bantu permainanpun sudah selesai
disiapakan oleh 3 orang yang akan segera berubah jadi badut untuk
menghibur anak-anak. Saya juga mulai berdandan beberapa sa’at
sebelum tamu kecil dan tamuku datang.
Kebetulan sore ini tampak cerah, sehingga pesta ulang tahun pengeranku
yang dilangsungkan ditaman belakang rumah berjalan lancar. Setelah
acara tiup lilin dan pemotongan kue, anak-anak bermain dan
dipandu oleh beberapa orang badut.
Suasana begitu meriah, tawa canda anak-anak dan sorak-sorai tepuk
tangan dan nyanyian ikut meramaikan susana. Apalagi ditambah suara
tawa anak – anak dan kegembiraan mereka dengan meloncat dan berlari
sa’at melakukan sejumlah permainan untuk memperebutkan sejumlah hadiah.
Aku bisa merasakan kebahagian di wajah mereka. Wajah-wajah mereka
begitu ceria, senyum mereka tak henti-henti menghiasi bibir-bibir mereka
yang mungil. Begitu juga pangeran kecilku, beberapa sa’at setelah bermain
bersama teman-temannya yang sengaja kuundang pada pesta surprisenya
kali ini, membisikkan ditelingaku ”Thanks yach Mom, I love you so much !”,
aku makin bahagia. Suamikupun tak mau kalah ikut memberi kiss kepadaku
di pipi kiri yang semakin membuat aku bahagia diantara kedua lelaki ini,
hehehe..
Tapi, di tengah kegembiraan itu, tanpa sengaja aku menoleh ke halaman
luar lewat lubang-lubang pagar samping rumahku. Mataku bertumpuh pada
sepasang bocah yang mengintip acara ini. Tadinya aku tak terlalu
menghiraukan kehadiran mereka. Tapi ketika terdengar tawa mereka
yang mengikuti serangkaian acara pesta putraku membuat aku penasaran
atas tingkah pola mereka diluar. Aku segera keluar sebentar meninggalkan
pesta yang sedang berlangsung. Kulihat sepasang bocah itu berpakaian lusuh
beralasan sendal jepit seadanya. Badan kedua bocah ini cenderung hitam
legam mungkin sering terbakar sinar mentari, begitulah analisaku seketika
atas mereka.
Melihat kedatanganku secara tiba-tiba, mereka sangat kaget dan menghentikan
seketika aktivitas mereka yang asyik tadi, yakni tengahmengintip
kelangsungan acara pesta ulang tahun pangeran kecilku dari celah-celah
lubang pagar samping rumahku.
Sungguh aku sempat terhenyak melihatnya, aku coba pandangi kembali
wajah mereka yang mungil, senyum mereka yang polos, kemudian pandangan
mereka berubah pucat dan takut akan kehadiran diriku.
Lalu aku menghampiri sepasang bocah itu, sambil sedikit membungkuk aku
menyapanya. “Ayo kemari adik kecil “. Sepasang bocah itu kelihatannya
makin takut , mungkin mereka merasa bersalah atas tindakan mereka tadi.
Malah salah satu dari bocah itu sempat membalikkan badannya, mungkin
mengambil ancang-ancang untuk bergegas pergi.
Aku memegang pundak keduanya dan mereka tampak semakin ketakutan.
Salah satu bocah itu sempat berkata,”Ma’af tante kami nggak ngintip lagi
dech, ma’af yach, kami segera pergi dech”, ucap bocah itu seakan amat
bersalah.
Memberi di Tengah Kesulitan Juni 5, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Berbagi, Inspirasi, Kesulitan, memeberi, Menggila, Prihatin, Sewot, Tolong menolong, Tuhan
5 comments
“Ah, lagi-lagi kebijakkan pemerintah membuat rakyat semakin terhimpit. Semakin buat rakyat makin miskin, makin susah untuk hidup layak !”, gumamku pagi ini ketika aku membaca headline koran yang biasa diletakkan pembantuku di meja makan, untuk menenami aku sarapan.
Mulai berita demo, sampai berita rintihan rakyat kecil yang semakin tertindih beban berat akibat kenaikan BBM baru-baru ini. Wow bikin pusing kepala !
“Ah, daripada pusing, lebih baik aku ke pasar tradisional dekat rumahku !”. Ya..hitung-hitung aku bisa dapat belanjaan lebih murah & lumayan untuk berhemat di tengah krisis yang mulai mendera dimana-mana.