jump to navigation

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu… Oktober 30, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
7 comments

Pada masa sekarang ini, apalagi tinggal dikota Jakarta yang serba gemerlap ini, tak jarang mengharuskan pasangan suami isteri harus sibuk di luar rumah dalam rangka memenuhi kebutuhakn financial yang menjadi tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebut saja seorang Tsamara. Sosok wanita muda, yang selalu energik, selalu tampil dandy sebagai wanita karier, terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Yah, Tsamara adalah seorang karyawati sebuah perusaahan yang cukup terkenal di Jakarta, dengan karier yang lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita. Tsamara sudah dikaruniai dua orang putri. Putri pertamanya sudah berusia 11 tahun bernama Auline dan putri keduanya berusia empat tahun bernama Cilla.

Seperti biasa rutinitas Tsamara hampir dihabiskan dikantor. Berangkat kerja mulai jam 7.00 pagi dan pulang kerumah rata-rata jam 21.00. Tsamara memang tinggal di salah satu sudut kota Jakarta yang hinggar bingar.

Seperti biasa setelah seharian penuh bekerja di kantornya, dalam keremangan lampu halaman rumahnya yang indah, dia melihat Auline putri pertamanya di temani Mbak Sum pengasuhnya menyambut dirinya di teras rumah.

“Sayang, kok belum tidur ?” sapa Tsamara sambil mencium kening anaknya.

Biasanya Auline sudah tidur ketika Tsamara pulang dari kantor, karena harus bangun pagi juga karena jemputan sekolahnya juga pagi jam 6.30.
Sedangkan adiknya (putri kedua Tsamara bangun menjelang Tsamara berangkat ke kantor (sekitar jam 7.00 pagi) dan berangkat ke sekolah sekitar jam 8.00.

“Auline menunggu Mama pulang, Auline mau tanya, gaji Mama itu berapa sih Ma?” tanya Auline sambil terus membuntuti mamanya naik ke lantai atas.

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu nich...

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu nich...

“Ada apa sich kok nanya-nanya gaji Mama segala ?”, jawab Tsamara sekenanya atas pernyaan putrinya yang agak nyeleneh ini.

“Auline cuma…pingin tahu aja kok Mah ?, lanjut Auline yang merasakan kalau pertanyaanya tidak digubris sang Mama.

“Mama nggak mau jawab pertanyaan gituan !”, jawab Tsamara denan wajah mulai ditekuk, atas pertanyaan Auline yang mulai aneh.

“Baiklah kalau Mama nggak mau jawab, Auline akan tebak dan hitung sendiri ya !”, jawab Auline dengan gayanya yang sok tahu, ala anak kecil.

Sambil mengambil selembar kertas kecil dan pulpen, Auline berlari ke meja belajarnya di sudut kamarnya. Lalu Auline mulai menghitung.

Hem…Kerja Mama sehari Auline tebak digaji Rp 800.000,-, berarti selama sebulan dikali 20 hari. Terus berapa gaji Mama sebulan ?. Sehari Mama saya anggap kerja 10 jam.

“Kalau begitu, satu bulan Mama di gaji Rp 16.000.000,-, ya Ma ?”
“Dan satu jam Mama dibayar Rp. 100.000,-.” kata Auline setelah mencorat-coret dalam kertasnya sambil membuntuti Tsamara yang beranjak menuju Toilet.

“Ok, Auline, kamu memang putri mama yang pintar, sayang”. “Sekarang Auline cuci kaki lalu bobok”, perintah Tsamara setengah berteriak dari dalam toilet.

Tapi kenyataanya Auline masih saja berada di kamar Tsamara, putrinya ini malah duduk di tepi ranjang sambil terus memandangi mamanya yang berganti pakaian.

“Mah, boleh tidak Auline pinjam uang Mama Rp. 10.000,-?” tanya Auline dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.

“Sudahlah Auline, nggak usah macam-macam dech, untuk apa minta uang malam-malam begini”. “Kalau mau uang besok saja”. “Mama sekarang sudah capek”. “Sekarang Auline tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!”, perintah Tsamara lagi kali ini dengan nada yang agak galak.

“Tapi Mah”, Auline coba membantah perkataan mamanya.

“Auline…., Mama bilang tidur, tidur !!!”, kali ini Tsamara mulai membentak putrinya, sehingga sangat mengejutkan Auline.

Akhirnya Auline beranjak menuju kamarnya.

Tsamara mulai jengkel atas pertanyaan dan kebandelan Auline akhir-akhir ini. Tsamara mulai tak bisa menahan emosinya lagi dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak ramah seperti hari-hari sebelumnya. Untungnya ada suaminya yang selalu menghibur dan menenangkan Tsamara atas kelakuan Auline ini.

Ketika emosi Tsamara mulai stabil dan selang beberapa waktu kemudian, Tsamara kembali menengok kamar anaknya ini. Dia ingin melihat putri kebanggaannya ini “Auline”

Tapi, ketika Tsamara menjumpai Auline di kamarnya, ternyata putrinya ini belum juga tidur. Tampaknya Auline sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang.
Tsamara jadi sedikit bingung dan mulai menyesali atas bentakannya tadi.

Dipegangnya kepala Auline pelan dan berkata, “Sayang, ma’afkan Mama ya nak !”. “Sebenarnya Mama sayang sekali pada Auline”.
“Auline adalah putri kebanggaan Mama”, kali ini tatapan Tsamra ke wajah mungil anaknya ini dengan penuh kasih.
Lalu, Tsamarapun sambil ikut berbaring di sampingnya dan mendekapnya.

“Ok, sekarang Auline kasih tahu Mama, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini”. “Besok kan bisa, jangankan Rp. 10.000,-, lebih banyak dari itupun akan mama akan kasih”, bujuk Tsamara ke putriinya ini.

“Auline, nggak minta uang Mama kok”. “Auline cuma mau pinjam”. “Nanti akan Auline kembalikan, kalau Auline sudah menabung lagi dari uang jajan Auline”, bibir mungil putrinya mulai bicara.

“Ok, sayang, tapi untuk apa uang itu Auline?”, tanya Tsamara tetap dengan suara yang lembut.

“Sebenarnya Auline sudah menunggu Mama dari sore tadi”.
“Auline nggak mau tidur sebelum ketemu Mama”.
“Auline pengen ngajak Mama melukis bareng”.
“Satu jam saja”.
“ Tapi mbak Sum sering bilang kalau waktu Mama itu sangat berharga”.
“Jadi Auline ingin beli waktu Mama, agar Mama & Auline bisa melukis bareng lagi seperti dulu”, Auline kecil mencoba menjelaskan kepada Tsamara.

“Lalu,” tanya Tsamara penuh perhatian dan kelihatannya Tsamara masih belum mengerti sepenuhnya.

“Iyach, ma, tadi Auline hitung uang tabungan Auline, ternyata jumlahnya ada Rp 90.000,-“.
“Tapi karena tadi Auline hitung satu jam Mama di kantor dibayar Rp. 100.000,-, berarti masih kurang Rp. 10.000,- lagi”.
“Makanya Auline ingin pinjam pada Mama”.
“Auline ingin membeli waktu Mama satu jam saja, untuk menemani Auline melukis bareng”.
“Ma, Auline kangen banget sama Mama,” ujar Auline polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.

Tsamara terdiam, dan kehilangan kata-kata. Dadanya bergemuruh kencang, seakan ada yang mengetuk-ngetuk dibaliknya. Lalu, Putri kecil itunya itu dipeluknya erat-erat. Putri kecil, putri kebangaannya ini menyadarkan dirinya, bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.

“Ma’afkan mama sayang, sungguh Mama hilaf”, kali ini Tsamara tak dapat membendung luapan jiwanya yang tadinya serasa bergemuruh kencang.

Semoga sepenggal cerita diatas memberi inspirasi dan manfa’at.

Selamat Jalan Pak Holil, Selamat Jalan Pahlawanku … Oktober 28, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
4 comments
selamat jalan pak Holil...

selamat jalan pak Holil...

Seminggu yang lalu, sengaja kulepaskan segala kepanatan dan rutinitas yang hampir 6 bulan melekat erat di hari-hari saya. Saya ingin merefresh diri dan jiwa. Saya ingin meluangkan waktu sejenak bersama putra sulungku untuk mengunjungi seseorang yang sempet saya kenal kira-kira dua tahun yang lalu, lewat acara kemanusiaan.

Karena bulan November nanti bangsa Indonesia akan memperingati hari PAHLAWAN pada tanggal 10 November nanti. Saya langsung teringat dan berinisiatif untuk mengajak putra sulungku mengujungi salah seorang veteran pejuang tanah air yang sempet saya kenal tsb. Sebut saja namanya Pak Holil. Untungnya langsung disambut antusias oleh putraku.

Memang sudah selama 2 tahun berturut-turut setiap meyambut hari Kemerdekaan dan hari Pahlawan, putra sulungku saya ajak untuk mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan detik-detik mengenang kembali perjuangan bangsa ini.

Mulai dari acara napak tilas sejarah perjuangan bangsa, sampai mengunjugi museum dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Dan ternyata respon dan hasil yang saya dapatkan sangat memuaskan. Putra saya sangat antusias dan keingintahuannya tentang hal-hal yang berhubungan tentang sejarah perjuangan bangsa, dll sangatlah besar. Setidaknya menurut kaca mata saya untuk ukuran seorang bocah yang masih berusia 10 tahun.

Sekitar jam delapan pagi, saya dan putra sulung saya sudah meluncur dari rumah. Sengaja berangkat agak pagi, agar saya sempet berbelanja terlebih dahulu beberapa macam keperluan sehari-hari, untuk saya bawakan sebagai buah tangan dalam rangka mengunjugi seseorang tsb, yang diam-diam dalam hati saya kagumi ini.

“Pangeran” putra sulungku sempat membantuku dengan memilihkan beberapa macam buah utk dirangkai dalam keranjang buah oleh petugas hypermarket. Akhirnya setelah lebih kurang menghabiskan waktu 1 jam, kami langsung meluncur ke tempat yang semula akan kami tuju, yaitu rumah Pak Holil.

Pukul setengah sebelas, kami sudah sampai di sebuah jalan sempit menuju kediaman Pak Holil. Maklum untuk menuju rumah pak Holil masih harus ditempuh dengan berjalan kaki tak kurang dari 100 meter lagi. Saya sengaja memarkirkan mobil di sudut sebuah warung dan sempat permisi untuk menitipkan kendaraan disana.

Untungnya si ibu, empunya warung tidak berkeberatan. Bahkan setelah tahu bahwa saya akan mengunjungi Pak Holil, ibu si empunya warung dan anaknya yang sudah agak besar (kira-kira 16 tahunan) ikut membantu saya dan Pangeran membawakan oleh-oleh buat Pak Holil.

Hem, baik juga yach nich ibu dan anaknya masih mau bantu saya, padahal sebenarnya dia sedang buka / jaga warung.

“Bu, warungnya nggak apa-apa ditinggal ?”, tanya saya karena khawatir ada yang nyolong kalau ikutan ngantar kita ke dalam lorong.

“Ah, enggaklah bu, kalaupun ada yach ngambil dulu, yach nggak kenapa-napa juga, nanti juga bayar !”, jawab si ibu warung dengan santai.

“Lho, kalau nggak ada yang jaga warung, nanti ada yang nyolong gimana”, kali ini Pangeran nggak kalah khawatir.

“Insya Allah nggak ada nak”, sambung ibu warung ini lagi dengan mimik yang sangat yakin kepada Pangeran.

“Yach, kalau gitu, ayo kita jalan, terima kasih banyak lho bu, dik karena sudah mau bantuin kita”, lanjutku sambil segera menuju ke lorong yang menuju rumah pak Holil..

Jalan masuk ke rumah pak Holil ini terbilang sempit, hanya berupa lorong yang bisa dilalui motor atau pejalan kaki. Orang Jakarta sering mengistilahkannya dengan Lorong “Senggol”. Karena kalau kita berjalan berpapasan dengan orang lain, bisa saling bersengolan satu sama lain karena kondisi lorong yang sempit. Kondisi rumah pak Holil pun tak kalah memprihatinkan. Anak-anak & menantu beliaupun perekonomiannya ma’af sangat terbatas.

Saya juga pernah menceritakan hal ini di postingan blog saya sebelumnya, berjudul “Arti Merdeka Bagimu”. Silahkan dibaca jika ada yang penasaran.

(Ma’af penggambaran saya diatas hanyalah sebuah bentuk keprihatinan saya dari apa yang saya lihat. Tidak bermaksud melecehkan atau meremehkan keadaan mereka. Tidak sama sekali. Mohon ma’af yach pak Holil & keluarga jika kata-kata saya ini sekiranya kurang berkenan. Tapi justru penggambaran saya ini hanyalah sebuah bentuk keprihatinan saya yang mendalam, agar dapat lebih membuka mata saya lagi. Saya merasa sangat bersyukur bahwa saya tidak berada dalam kondisi seperti mereka. Alhamdullillah.)

Tapi dibalik keprihatinan yang dialami pak Holil dan keluarga, mereka tidak pernah mengeluhkan nasib mereka ini. Apalagi menuntut lebih kepada pemerintah, atas jasa perjuangannya. Karena menurut pak Holil, perjuangan yang telah dia lakukan semata-mata demi terbebasnya bumi pertiwi dari kaum penjajah. Demi berdirinya bangsa ini. Perjuangan yang dia lakukan bersama para pejuang tanah air lainnya tidak untuk pamrih.” Jangankan harta benda, jiwa & ragapun rela mereka berikan demi perjuangan”, kata yang pernah di ucapkan pak Holil yang masih kuingat hingga kini.

“Sungguh luar biasa, Kau dan para pejuang lainnya memang pejuang sejati. Patut menyandang gelar “Putra Terbaik Bangsa”

Tak beberapa lama kami tiba dimuka rumah pak Holil. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tips alakadarnya kepada ibu warung dan anak ibu warung ini, yang sudah membantu saya dan pangeran, saya mulai mengetuk pintu rumah pak Holil.

Tapi sepertinya suasana rumah sepi. Padahal saya sudah mengucapkan salam sampai dua kali.

Tak lama kemudian, pintu rumah pak Holil terbuka. Sepertinya dibuka dari rumah sebelah. Maklum rumah pak Holil ini memang bersebelahan dengan rumah anaknya.

“Assalamualaikum mbak, pak Holilnya ada ?”, tanya saya kepada wanita muda yang berada di muka pintu rumah pak Holil ini.

“Walaikumsalam, ibu ini e…ibu Bintang khan, yang tempo hari dulu pernah kesini ?”, sambut wanita muda ini lagi.

Wanita muda ini sudah saya kenal sebelumnya. Namanya mbak Sumiati, sering dipanggil mbak Sum. Dia adalah putri ketiga pak Holil. Tinggal di sebelah rumah pak Holil. Sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Anaknya yang tertua berumur sekitar 8 tahun dan yang kecil berumur sekitar 4 tahun.

“Betul, mbak Sum…saya ibu Bintang, mbak !”, lanjut saya coba menyakinkan kembali ingatan mbak Sum ini kepada saya.

“Sedangkan ini putra saya, Pangeran”, saya coba mengenalkan putra saya kepadanya juga.

“Mbak kok sepi, pak Holil mana ?”.
“Dan ini sedikit buah tangan dari saya & keluarga buat keluarga pak Holil disini !”, lanjut saya lagi mulai membuka obrolan dengannya, sambil menunjukkan sedikit buah tangan yang sebagian yang masih terletak di sudut pintu.

Saya lihat wajah mbak Sum, sempat tersenyum kepada saya & Pangeran.

Tapi tiba-tiba, mata wanita muda ini berkaca-kaca, dan derai tangis pun pecah. Sambil terisak-isak wanita muda ini berbicara dengan nada terbata-bata.

“Bapak sudah meninggal mbak, sebulan yang lalu”.
“Bapak dimakamkan di pemakaman umum dekat terminal”.

“Innalillahi wainailaihirojiun !”, bibir saya pun langsung berujar spontan.

Tak kuasa air mata sayapun menetes di pipi. Terkenang budi baik dan jasa beliau sebagai pejuang kemerdekaan tanah air yang tidak pernah menuntut banyak.

Sungguh sayapun turut merasakan kehilangan seorang pak Holil, seorang yang penuh kesederhanaan dengan berbagai keterbatasannya, namun dibalik itu tetap terpatri jiwa yang besar, pengabdian dan pengorbanannya semata demi kebebasan bangsa. Sungguh sosok yang sangat luar biasa, dan sosok yang langka menurut sudut pandang saya.

Mbak Sum juga sempat menceritakan pada saya dan Pangeran bahwa pada detik-detik hayatnya, pak Holil ingin diperdengarkan lagu “Indonesia Raya”. Dan beliau menghebuskan napas terakhirnya tepat setelah selesai mendengarkan lagu kebanggaan beliau ini.

Yach, itulah permintaan khusus beliau di detik-detik akhir usianya. Meski untuk hal inipun anak-anak pak Holil harus bersusah payah pinjam tape dan kaset dari para tetangga yang kebetulan punya.

Masya Allah…saya tak kuasa mendengar cerita haru ini, tentang permintaan terakhir beliau ini lewat mulut mbak Sum. Sungguh saya terharu mendengarnya, serasa ada yang bergemuruh di dalam dada ini. Sangat dalam, sehingga mulut saya tak bisa berkata apa-apa.

Pak Holil memang putra pejuang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Beliau salah satu veteran pejuang tanah air. Didetik-detik akhir napasnyapun beliau masih menunjukkan betapa besarnya kecintaannya pada bumi pertiwi ini. Meski hanya dengan mendengarkan lagu “Indonesia Raya”. Sungguh pengalaman ini memberikan pelajaran tersendiri bagi saya.

Dan saya yakin masih banyak pak Holil-pak Holil yang lain di luar sana. Semoga nasib mereka lebih baik dibanding nasib pak Holil yang pernah saya kenal ini.

Selamat jalan Pak Holil, selamat jalan putra terbaik bangsa, do’aku, do’a kami semua, menyertaimu, selamat jalan…

Gugur Bunga
Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

Jiwa, semangat perjuangan pak Holil dan para pejuang (veteran) kemerdekaan tanah air lainnya, semoga tetap melekat dan tetap membakar semangat kita sebagai generasi penerus perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan tanpa pamrih.
Sekian, semoga cerita tersebut memberikan manfa’at dan inspirasi bagi kita semua.

Kupersembahkan tulisan ini buat :
Alm. Pak”Holil“bukan nama sebenarnya
(salah satu Veteran Pejuang Kemerdekaan) Indonesia

IBU, KASIHMU SEPANJANG JALAN Oktober 16, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
11 comments

Beberapa waktu yang lalu saya sempet membaca sebuah cerita yang beriksah tentang kasih Ibu terhadap anaknya. Dan semoga saja cerita yang akan saya bagi ini, bisa dijadikan ajang bagi kita semua untuk saling mengingatkan kembali arti pengorbanan orang tua, terutama ibu kita, sehingga kita lebih mencintai dan menyayangi lagi ibu / orangtua kita.
Apalagi kalau mereka sekarang masih ada di tengah-tengah kita. Semoga kita jadi anak yang pandai membahagiakan ibu / orangtua kita, semoga…

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Dicerita tsb diceritakan lebih kurang sebagai berikut :

Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat (ma’af nama tempatnya sengaja nggak saya sebutkan), ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. (Hem menurut saya.sungguh kebiasaan yang aneh mungkin untuk ukuran pikiran orang yang normal, sungguh aneh ???)

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita! sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.

Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Tak kuasa akhirnya dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Yah, Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Sekedar isapan jempol….

Tapi di jaman sekarang, kalau kita mau jujur, kejadian mirip tersebut diatas, tak sedikit kita jumpai sangat persis cerita diatas. Mungkin hanya beberapa istilahnya saja yang diplesetan / diperhalus bahasanya. (Hem……)

Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya malas untuk merawat mereka, sibuk, ada bisnis, dan berbagai alasan lainnya. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang ada yang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja. ( Nggak percaya, coba sekali-kali bertandang ke tempat –tempat ini, kalau para pembaca nggak percaya…)

Buya & Ummi

Buya & Ummi

Yah, semoga saja cerita diatas bisa membuka mata hati kita semua, untuk bisa mencintai orang tua kita dan para manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disa’at mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa.

Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Sungguh pengorbanan yang tiada tara.

Terima kasih, semoga cerita diatas bisa memberi manfa’at dan inspirasi.

Oh , So “Wonderful Life”, if you have “Balancing Life” Juni 18, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
15 comments

Hari Minggu lalu (+/- seminggu yang lalu), saya sempat mengunjungi rumah seorang tante saya di bilangan Jakarta Selatan. Terus terang hal ini agak setengah terpaksa saya lakukan, karena ibu saya meminta saya terus untuk mengantarkan buah tangan ibu dari kampung, untuk tante saya tersebut. Yach jadi meski dengan perasaan setengah mengomel dalam hati tugas mengantarkan oleh-oleh ini saya lakoni juga.

Terus terang maksud hati saya bukan semata-mata menolak keinginan ibu saya, hanya saja saya merasa hari Minggu ini juga saya masih ada pekerjaan yang lebih penting yang harus saya selesaikan. Karena dari dua minggu yang lalu sempat tertunda karena ada tamu dan kerjaan itu akhirnya belum kelar.

Ekspresi mendengar nasehat Tante

Ekspresi mendengar nasehat Tante

Padahal, saya sudah mengorbankan hari Sabtu dan hari Minggu yang lalu (+/- 2 pekan lalu) untuk bersama anak-anak. Pada akhir pekan 2 minggu yang lalu, saya sudah meminta suami saya untuk mengajak anak-anak pergi dan bermain tanpa saya, meskipun disambut dengan cembetut oleh suami dan kedua putra saya.

“Hem, I’m sorry, my son, my honey, To day, Mommy must do some works, so you can play in garden with your nanny or you can round a way with your father, ok ?”, pinta saya kepada kedua buah hati saya yang ingin mengajak saya bermain di akhir pekan 2 minggu yang lalu. Sementara itu saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya hingga sore akhir pekan berakhir.

Ok, balik lagi ke session awal (hari Minggu lalu), setibanya saya dirumah tante saya itu (Minggu kemarin), saya disambut hangat oleh putri bungsu tanteku.

“Ei, tante Bintang, sudah lama nich nggak main kemari, sudah sombong nich tante…sampai-sampai pas acara nikahan bang Fahri nggak datang !”ujar keponakan saya (anak tanteku yang bungsu) ini membuka pembicaraan kami kala itu tatkala aku baru turun dari mobil. Ternyata keponakanku ini sedang asyik menggunting batang dan daun bunga yang mulai kering.

Aku hanya membalasnya dengan perasaan setangah malu,” Yach maklumlah nasib pegawai kayak gini, terkadang mesti bela-belain lemburin kerjaan meski nggak dibayar dan merelakan waktu weekend”. “Ini ada oleh-oleh dari kampong, 2 minggu lalu mama habis mudik”, lanjutku lagi sambil menyerahkan oleh2 titip Mama untuk keluarga tante ini.

“Aduh tante terima ksih banyak yach, sudah merepotin. Yuk, masuk tante !”, ajak keponakanku ini lagi. “Saya panggil mama dulu yacht tante”, lanjutnya lagi sambil berlalu meninggalku di ruang tamu yang tampak elegant.

Sebenarnya ada perasaan nggak enak juga, karena gara-gara lumayan sibuk waktu untuk saling berkunjung dan saling bertegur sapa meski lewat telp, kurasakan agak berkurang akhir-akhir ini. Padahal dulunya hampir tiap bulan saya dan keluarga berkunjung kemari. Karena tanteku ini yang paling akrab denganku sedari aku kecil. Saya jadi agak menyesal juga.

Sebenarnya secara tak sengaja, sedari kedatanganku tadi saya sempat terpukau sa’at melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah di rumah tanteku ini.

“Ei…ma’af jadi agak lama nunggunya !”, seru tanteku yang langsung memelukku. “Yuk, kita ke dapur, kebetulan tante lagi bantuin si mbaknya masak kue maksubah dibelakang, kamu pasti suka khan ?” seru tanteku dengan wajah yang semeringgah.

Sambil masuk ke dapur, saya tetap memperhatikan tatanan rumah tanteku yang memang tertata rapi dan dipenuhi berbagai koleksi benda-benda yang unik dan berbagai lukisan dengan ukuran yang juga bervariasi.
(lagi…)

Sorry Sir ! I don’t know about It ! Juni 12, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , ,
11 comments
Sorry Sir, I don't know about it!

Sorry Sir, I don't know about it!

“Sorry Sir ! , I don’t about it !”. Yach, kalimat itulah yang akhirnya dengan berat hati harus meluncur dari mulutku untuk mengakhiri session presentasiku kali ini. Kalimat ini sangat berat kuucapkan mengingat saya harus mengakui di hadapan atasan saya yang notabene selama ini nggak pernah meragukan kemampuan saya (halah….yang bener…), kalau saya betul-betul tidak dapat menjelaskan jawaban yang lebih detail dan mungkin lebih tepat pada atasan saya kali ini. Asli mati kutu, mati gaya, tapi belum sampai mati beneran, qiqiqi….

Ah, benar-benar saya tidak menyangka dan memprediksi sebelumnya, kalau ternyata tetap ada kemungkinan yang sempat ditanyakan oleh atasan saya tersebut, dan hal ini bisa saja terjadi atau menimpa cost plant yang sedang saya usulkan / presentasikan kali ini. “Edan, kok saya bisa nggak memprediksi hal ini yach !”, lagi-lagi saya mulai mengutuk diri sendiri.

Ups…meski sedikit lemas karena hasil presentasiku kali ini nggak seperti saya targetkan, saya nggak kecewa (ah..boong…). Yach, saya harus segera merevisi semua report cost planku lagi….”Tetap semangatttttt”….aku mencoba meneriaki diriku sendiri biar tetap eksis, meski kuakui otakku mulai lemot juga dan oksigen yang ada di kepala seakan mulai tertatih-tatih karena uber-uberan dengan waktu. Wow serasa bernafas dalam lumpur, megap-megap, oi….

Ditengah kemelut yang mengelayuti pikiranku aku mencoba kembali memompakan aliran darah ke otakku, hingga aku mulai sedikit demi sedikit mulai kembali membuka sheet otakku lagi, agar mulai mampu berpikir jernih lagi.
(lagi…)

To Be a Perfect Woman ?. No, Thanks !. Mei 20, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , ,
29 comments

Menjadi seorang wanita yang sempurna akan lebih Ok dari kita semua ?. Hem…apakah hal itu hanya justru mengindikasikan rasa percaya diri kita yang rendah ?. Hah…entahlah…

Yap..itulah sekelumit pikiran yang melayang-layang dalam unsur elektro kimia otakku pagi ini. Hem, saya coba berpikir sejenak untuk mencerna dan menganalisa dari sisi pikiran dan perasaanku sebebas-bebasnya. Aku mulai menguraikannya dalam opini bebasku. Pikirankupun langsung melayang ke beberapa orang yang pernah kukenal dari masa lalu.

To Be a Perfect Woman ? No, Thanks !

To Be a Perfect Woman ? No, Thanks !

Tania adalah sosok perempuan yang hebat, atau boleh kuberi gelar “luar biasa”. Betapa tidak, apa yang dulu pernah kudambakan melekat erat pada dirinya. Tahukah kau sobat, kalau boleh kugambarkan disini sosok seorang Tania yang dulu kukenal. Berwajah cantik, perpaduan wajah blasteran Indo yang oriental dengan Itali. Menjadikannya tak ubah seorang model berkelas. Ditambah penampilannya yang selalu trendi, berotak cemerlang lengkap dengan segudang prestasi yang diraihnya baik dibidang akademik maupun bidang lainnya. Suara dan bahasa tubuhnya sangat sempurna. Wow…sungguh gambaran wanita yang sangat sempurna dimataku kala itu.

Apalagi ditunjang olah fakta-fakta yang lain, orangtuanya kaya raya, dan pada sa’at kami duduk dibangku kuliah, Tania sudah mempunyai seorang pacar / cowoq yang juga tak kalah sempurna dengannya. Duch semakin lengkaplah sosok seorang Tania yang pernah kukagumi.

Kalau aku boleh menambahkannya lagi, Tania selalu jadi rebutan perhatian, semua tindak tanduknya, tingkah polanya, selalu jadi pusat perhatian. Sehingga tak dinyana lagi kalau Tania juga selalu dikelilingi oleh para sahabat / teman.

Dan tahukah kau para sobat, kalau aku boleh jujur mengungkapkan isi hatiku pada sa’at itu, aku “Iri” padanya, karena aku sangat bahkan terlalu mengaguminya. Astaga…

Yach, bisa dibilang di kampusku dulu, sosok Tania tak ubah seorang Super Star, bahkan beberapa orang teman terdekat sempat mengatakan kalau sosok Tania tak ubah replica “Monica Belluci”. Seorang Tania selalu menjadi buah bibir dan topic yang menarik & hangat dikalangan kampusku.
(lagi…)

Buya & Ummi Mei 19, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
5 comments

Usia buya & ummi saya boleh dibilang sudah menjelang senja. Buyaku kini telah berusia 69 tahun, sedangkan ummiku telah berusia 62 tahun. Meski demikian mereka berdua Alhamdullillah masih terlihat segar. Meski 2 tahun yang lalu ummiku sempet terserang sakit kanker, dan sejak itu harus rajin control dan check up setiap 6 bulan sekali ke Jakarta. Begitu juga dengan buyaku tahun lalu sempet terserang stroke ringan, sehingga untuk sa’at ini jika berjalan harus menggunakan tongkat.

Namun yang membuat kami, anak-anak buya dan ummi kagum pada mereka, adalah kesuka-citaan mereka menikmati hidup mereka di usia senja. Buya dan Ummiku tergolong orang tua yang masih masih aktif di tempat-tempat pengajian, masih aktif mengontrol kebun di kampong kami, masih aktif dibeberapa arisan keluarga, dan yang paling bikin kami semua rada deg-degan dengan kegiatan mereka adalah, mereka berdua masih suka bepergian meski sekedar plesiran..

Yach, kegiatan bepergiaan / plesiran ini bisa bersifat sekedar datang ke pesta pernikahan keluarga, kerabat, maupun berkunjung ke rumah kami, anak-anak mereka, yang tinggalnya kebetulan tidak satu kota. Kebetulan kami, anak-anak buya & ummi semuanya ada tujuh orang. Kami semua tinggal menyebar di beberapa kota di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan negara. Sedangkan buya dan ummiku tinggal di kota kelahiran mereka di Sumatera Selatan.

Hem sungguh mengkhawatirkan menurut kami (anak-anak buya & ummi) mengingat usia mereka sudah tidak muda lagi, denagn sering kalinya mereka melakukan kegiatan tersebut tanpa didampingan kami (anak-anak mereka).

Saya masih ingat, diusia 67 tahun, buyaku masih mampu mengendarai kendaraan / mobil, meski hanya untuk ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer, demi mengantar ummiku belanja keperluan sehari-hari. Kami sebagai anak-anaknya, terus terang agak khawatir dengan kebiasaan buyaku yang kami nilai rada-rada “nekat” ini.

Tetapi sejak buyaku terserang stroke tahun lalu, akhirnya buyaku menghentikan sendiri kebiasaannya untuk mengendarai mobil sendiri itu. Yach, itulah sekelumit kebiasaan buyaku.
Sedangkan kebiasaan ummiku adalah beliau masih lincah dan heboh bila untuk urusan bersih-bersih / beres-beres rumah, ngurusi tanaman di depan dan samping rumah, merangkai bunga, masak-memasak bahkan untuk urusan belanja dan tentu saja disamping mengurus suami, buya kami.

(Ma’af buya, ummi, bukan ananda bermaksud membeberkan keburukan buya & ummi yach…)

Terkadang saya sebagai anaknya rada-rada khawatir sendiri bila mendengar laporan kalau beliau lagi sibuk dan kemudian kecapekan dengan kegiatannya yang lumayan padat, lalu jatuh sakit. Duch buya, ummi, nanti kalau jatuh sakit, dsb gimana …

Tapi itulah sosok buya dan ummiku, meski terkadang kami semua merasa sangat khawatir akan kegiatan yang mereka jalani, khawatir karena kecapekan dan jatuh sakit, sehingga seringkali larangan-larangan kami dianggap sebagai penghalang keduanya untuk lebih enjoy atas aktivitas mereka di hari tuanya.

Sebagai salah satu anak buya & ummi yang kebetulan menurut saya tinggalnya tidak terlalu jauh dari kota kelahiran mereka, saya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguk buya dan ummiku. Setiap kali itulah saya ingin mengajaknya keduanya untuk tinggal bersama kami di Jakarta.

“Nggak usah, lain kali saja !” jawab buya dan ummiku. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami sa’at mengajak mereka untuk ikut pindah ke Jakarta.

Memang, kadang-kadang secara berkala buya dan ummiku mengalah dengan berkunjung ke Jakarta dan mau menginap bersama kami anak-anaknya. Namun setelah 2 minggu kemudian mereka minta pulang. Ada-ada saja alasannya. Kangen kamponglah, disini suasananya warga di kota Jakarta nggak seperti dikampung, jauh dari masjidlah, kegiatan mereka di masjid tertundalah, kebun nggak ditenggoklah, tanaman nanti pada rusaklah, rumah nanti nggak ada yang nguruslah, ada saudara & kerabat yang kan menikahkan anaklah, dll. Sedemikian banyak hal yang membuat mereka cinta dan enggan meninggalkan kampong dan rumah mereka berlama-lama. Haiyah….

Suatu hari sekitar Februari lalu, buya dan ummiku mau ikut saya ke Jakarta. Saya dan suami sangat senang, karena dengan begitu mereka akan bisa bermain dan bersenda-gurau dengan anak-anak dirumah sepeninggal saya bekerja di kantor. Tetapi, mungkin suasana dirumahku berbeda dengan suasana di kampong kota kelahiran buya & ummiku, sehingga mereka merasa kurang kerasan selama di Jakarta. Dan seperti biasanya meraka mulai minta pulang. Biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. Saya sangat memahami keinginan mereka untuk tetap bisa punya kesibukan sendiri di hari tua mereka. Tapi terus terang seringkali perasaan was-was, khawatir terhadap mereka itu lebih besar saya rasakan bila mereka tinggal berlainan kota dengan saya. Hem…

“Saya sedang sibuk, buya, ummi, tak boleh ambil cuti. Terus, papanya anak-anak juga masih sibuk training , dll. Tunggulah sampai akhir bulan, tinggallah sepuluh hari lagi. Akhir bulan ini saya akan antar buya dan ummi pulang ke kampong,” balas saya sekenahnya, meskipun sebenarnya kalau saya mau jujur, saya nggak rela mereka pulang ke kampong. Anak saya yang tertua pun ikut membujuk opa dan oma mereka agar nggak minta pulang.

“Biarlah buya dan ummi pulang sendiri jika kalian sibuk. Tolong belikan saja tiket pesawat atau bis untuk buya dan ummi untuk besok lusa,” kata buyaku mewakili keinginan mereka berdua yang membuat saya bertambah kesal. Memang buya dan ummiku sudah beberapa hari ini ingin pulang. Tapi saya masih coba menahan dan membujuk mereka.

“Nggak usah saja pulang besok lusa, buya , ummi,” bujuk saya saat makan malam.

Tapi kali ini ekspresi wajah keduanya hanya diam dan tak lama setelah makan malam keduanya lalu masuk ke kamar. Tidak bercengkrama bersama cucu-cucu seperti biasanya.

Esok paginya sa’at saya hendak berangkat ke kantor, buya dan ummiku kembali lagi minta saya untuk membelikannya tiket pesawat atau bis untuk besok. Terus terang kali ini saya sudah mulai kesal karena mereka tidak mau menuruti keinginan saya.

“Buya dan ummi ini benar-benar nggak mau mengerti ya. Please, saya sedang sibuk, sibuk banget, jadi tolonglah ngertiin sedikit, kalau memang buya dan ummi nggak mau menurut kata-kataku, anak buya & ummi, ok, saya nggak peduli dech, buya & ummi mau ngapa-ngapain lagi, terserah !!!”, ujarku dengan kata-kata yang lost control karena mulai marah atas rengekan mereka.

Dan tanpa salam tangan seperti biasanya, saya ngelonyor pergi ke kantor. Saya pergi ke kantor dengan mengendarai mobil dan membawa sejuta perasaaan kesal. Saya marah karena buya dan umiku sudah tidak mau lagi menuruti kata-kataku. Saya marah atas sikap buya & ummiku yang kuanggap tidak mau mengerti kesibukkan kami, anak-anak mereka disini. Saya kesal, kesal sekali…

Setibanya dikantor, perasaanku masih kacau balau. Konsentrasiku mulai terpecah antara tugas-tugas yang sedang menumpuk dan keinginan buya dan ummiku. Saya mencoba segera menyalakan computer dimeja kerjaku.

Tapi tiba-tiba, tak sengaja tanganku menyentuh gelas minuman di mejaku. Gelas itu terguling, airnya segera membasahi berkas-berkas dan beberapa peralatan yang ada dimejaku, termasuk frame foto keluargaku. Secara reflex tanganku coba menyelamatkan berkas-berkas tsb, termasuk frame foto keluargaku. Untunglah berkas-berkas tsb tidak terlalu masalah. Tapi sayang air yang masuk frame foto terlalu banyak, sehingga saya harus segara membuka frame tsb agar foto didalamnya tetap utuh dan bisa diselamatkan.

Namun ketika saya membuka foto tsb, saya menemukan tulisan tangan yang pernah ditulis buya & ummiku sekitar +/- 15 tahun yang lalu di balik foto tersebut,

“Kasih Sayang dan do’a dari Buya & Ummi akan selalu bersama anak-anak buya & ummi tercinta, dimanapun kalian berada sampai akhir hayat kami”

Peluk Cium selalu dari buya & Ummi,

Selesai membaca tulisan tersebut, tiba-tiba jantungku berdebar kencang, kenanganku melayang ke masa lalu, ketika kami sekeluarga masih kumpul dulu di kampong, bagaimana kasih sayang buya & ummiku dulu, teringat bagaimana bijaknya buya & ummi dulu, ingat kenakalan kami dulu, ingat berbagai kenangnan manis kami sekeluarga dulu, dll.

Saya jadi terdiam membisu, jiwa ini serasa terbang. Betapa saya sudah melukai perasaan buya & ummiku pagi tadi. Saya sudah melampau batas atas sikapku kepada kedua orangtuaku. Saya sudah egois, ingin memaksakan kehendakku terhadap mereka. Bukankah kebahagian menurut mereka, belum tentu sama menurut versi diriku, anak-anak buya & ummi. Ah, aku mulai menyadari kekeliruanku. Aku sudah egois ingin memaksakan keinginan diriku. Sikapku tidaklah adil buat mereka. O, Tuhan ampunkan hambamu ini. Buya, Ummi ma’afkan anakmu ini.

###

Segera kutelpon Buya & Ummi

Segera kutelpon Buya & Ummi

Tak ingin kubuang waktu, segera kuraih telpon untuk menelpon keduanya dirumah. Saya ingin segera meminta ma’af dan ampun kepada keduanya atas sikapku tadi pagi. Saya benar-benar menyesal telah melukai perasaan keduanya dengan kata-kataku yang tidak pantas. Saya malu dan sangat menyesal akan sikapku.
(lagi…)

KADO SPESIAL DARI SEORANG SAHABAT Mei 18, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , ,
3 comments
Kado Special dari seorang Sahabat

Kado Special dari seorang Sahabat

Seperti biasa, setiap hari Sabtu (jika hari libur), kegiatan pagi saya isi dengan memasak untuk keluarga tercinta. Maklum jika hari kerja, mulai dari hari Senin sampai Jum’at biasanya urusan memasak lebih saya serahkan kepada si mbak, meski untuk urusan menu tetap saya yang kontrol.

So..jika para sahabat main ke rumah saya, tak jarang mereka akan ngeledek dan menggoda saya, karena mereka akan membaca sesuatu di ruang makan keluarga saya. Yach, terdapat daftar menu untuk 30 hari kedepan yang saya laminating lengkap dengan gambar-gambar yang lucu yang saya tempel dgn magnet di kulkas sehingga akan jadi pemandangan yang unik, dekat meja makan keluarga saya.

Saya sengaja membuat menu selama 1 bulan setelah berkonsultasi, lebih tepatnya bernego dulu dengan putra saya yang tertua (+/- 10 tahun), tentang menu yang akan dinikmatinya selama 1 bulan ke depan selama saya nggak ada dirumah alias di kantor, termasuk hari Sabtu dan Minggu. Hanya pengecualiannya kalau hari Sabtu atau Minggu yang jadi coki-nya saya, hahaha .

Sedangkan untuk putraku yang kedua menunya lebih special krn masih nasi tim dan sejenisnya. Nah kalau ini susternya yang masak & bikin menu, hihihi…

Tiba-tiba ketika saya lagi heboh memasak, kebetulan hari ini saya lagi coba masak rendang untuk makan siang, Pangeran putraku yang tertua setengah berteriak memanggilku sambil menghampiriku, “Mama, ini ada paket untuk mama !”.

“Hem, dari siapa Pangeran”, tanyaku karena tanganku masih sibuk mengaduk-ngaduk kuah rendang yang mulai menyusut, dan aromanya yang mulai tercium harum dan sedap, hahaha….nah kalau yang ini muji sendiri qiqiqi…

“Dari Tutinonka, Jogjakarta, ma…ini teman mama yach ?”, tanya Pangeran bak seorang detektif.

“Hah, dari mbak Tuti ?”, sini coba mama lihat, terima kasih yach Pangeran !”,ujarku lagi dengan wajah yang berbinar sambil mengusap rambutnya yang mulai basah karena keringat.

Setelah beberapa sa’at kemuadian, saya dan Pangeran segera bergegas membuka paket special itu.
(lagi…)

Bukan Salah Saya, Salah Siapa, Yach ? Mei 14, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , ,
11 comments
Hem...salah siapa yach ?

Hem...salah siapa yach ?

Yap…pagi ini hujan turun lagi, padahal saya sudah kesiangan 10 menit dari biasanya. Duch.. gara-gara jam / wekerku mati (tiba-tiba baterainya habis)…eit tadi pagi nggak sempet berdering. Untung si mbak, sempet menggetuk kamar saya. Kalau enggak bisa-bisa kebablasan tidur dech, maklum kalau hujan dari pagi, tidur rasanya pulas banget, wahahaha. Bisa lebih gawat nich, saya bisa kesiangan tiba ke kantor, gumamku dalam hati.

Tapi yang membuatku uring-uringan pagi ini, tiba-tiba aki mobilku soak, alias nggak bisa nyala. Hem…sebenarnya sudah beberapa hari ini saya merasakan ada sesuatu yang nggak beres dengan mobilku, tapi berhubung saya nggak sempet dan nggak menyempatkan untuk bawa nich mobil ke bengkel, jadinya begini nich. Hahaha, saya mulai menertawakan keteledoranku sendiri. Untungnya Pangeran, putra tertuaku untuk seminggu ini sekolahnya libur, karena anak-anak kelas IV sedang ujian, sehingga saya tak perlu mengantarnya ke sekolah. So…masih aman dech.

Akhirnya pagi ini saya memutuskan untuk berangkat ke kantor naik kendaraan umum saja. Hup, sengaja saya nggak naik taksi, karena dalam sebulan ini sudah beberapa kali pulang pergi naik taksi, sepertinya saya sudah lebih boros dari biasanya. Saya coba untuk lebih ngirit.

Nah, dimulailah petualanganku ke kantor kali ini dengan naik kendraan umum. Berhubung hujan hanya tinggal rintik-rintik saya cukup membawa payung dan bergegas berjalan kaki sebentar untuk naik ojek ke depan kompleks. Lalu ke pangkalan angkot terdekat. Dan untungnya penumpang mulai berdatangan, sehingga angkot mulai berjalan.

Tetapi setelah berjalan sekitar 20 menit, tiba-tiba angkot menepi dan berhenti.
Saya yang sengaja sedari tadi asyik dengan novelku, mulai bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Oooo, ternyata sopir angkot harus menemui seorang polisi lalu lintas.
(lagi…)

ENJOY YOUR DAYS…every days in your life ! Mei 13, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , ,
5 comments
ENJOY YOUR DAYS, every days in your life !

ENJOY YOUR DAYS, every days in your life !

Hari ini hari Rabu lagi. Tapi sayang, pagi ini ketika saya melontarkan sapaan & senyum khas saya kepada seorang sahabat hari ini,
“Hai…Cilla…Nice days for you !”, dia tidak membalasnya senyuman seperti biasanya. Sahabatku ini sepertinya lagi malas dan tidak bersemangat hari ini. Dan tak beberapa lama kemudian Cilla mengatakan kalau dia ingin hari ini cepat-cepat berlalu, dan segera tiba hari Sabtu & Minggu, malah kalau bisa semua hari hanya hari Sabtu & Minggu alias hari libur oiiii….

(Wah-wah..gawat…kalau semua orang nggak suka hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis & Jum’at….gimana nasib kerjaan…bakal nggak ada yang kelar / beres nich, dan untungnya virus nggak semangat ini nggak menular ke saya…hahaha).

Kita semua sudah tahu & hafal banget kalau, kita semua, punya tujuh hari dalam seminggu.

Tapi kalau saya coba sedikit usil untuk bertanya kepada anda semua, para pembaca, “Berapa hari yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya ?”.
Lalu, “Apa arti hari-hari tersebut untuk anda ?”

Saya yakin, pasti jawabnya beragam…. dan…. saya juga yakin nggak sedikit yang nggak bisa jawab pertanyaan saya yang sepele itu khan ?.

Nah, dari pada kita ngoro-ngidul, saya hanya ingin berbagi kepada para pembaca semua gimana cara menyemangati diri kita, agar kita tetap semangat melalui hari-hari yang mungkin menurut sebahagian orang agak mem-be-te-kan itu.
Yuk kita coba simak yach, siapa tahu setelah membaca tips & trik berikut ini anda jadi bersemangat, ok ?

Senin adalah singkatan dari “Semangat Nan Indah”

Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali.

Tetapi, sebahagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali.

Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main Play Station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak makan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah.

Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lamaaaa…..
Apapun sikap yang kita pilih, tidak akan merubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak.
Sikap mana yang akan kita pilih ?
Memulai hari Senin dengan “Menggerutu” atau memulai hari Senin dengan “Semangat Nan Indah ?” .
(lagi…)