YUK, BERSYUKUR ATAS REZEKI YANG KITA PEROLEH Februari 24, 2009
Posted by elindasari in Artikel.Tags: berkah, bersyukur, Gaji, Income, rejeki, Syukur
17 comments

Sekarang ini gejala krisis semakin terasa.
Korban-korban kekejaman ekonomi semakin berjatuhan.
Gelombang PHK mulai merajarela.
Tak sedikit teman dan kerabat yang jadi korbannya.
Hem, sepertinya kehidupan semakin susah untuk
sebahagian besar orang yang mengalaminya.
Sebenarnya dampak ini sudah berlangsung cukup lama,
tapi sekarang ini semakin terasa bagi kebanyakan
rakyat Indonesia yang memang masih banyak hidup di
bawah standard. Entah bagaimana cara mengatasinya.
Saya sendiri belum bisa berbuat banyak untuk mengatasi
hal ini.
Tapi, sebagai bahan renungan bagi teman-teman, saya
ingin mengajak sejenak untuk meluangkan waktu agar
dapat lebih mensyukuri atas Rejeki yang masih kita
peroleh sampai detik ini.
Mari kita jadikan GAJI atau INCOME yang kita terima
sebagai GAJI / INCOME yang Berkah, dengan cara antara lain :
Berhemat :
Hargailah setiap rupiah yang kita peroleh dengan
lebih cermat dalam mengeluarkannya.
Susun prioritas pengeluaran & selektif dalam berbelanja.
Ayo Hemat… agar Selamat
(dalam hadapi dampak krisis keuangan global)
Menabung :
Mulailah biasakan diri untuk menyisihkan sebagian yang
diperoleh untuk bekal kehidupan kita di masa depan -
karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi
di hari esok.
Save or Sorry (Menabung sekarang atau Menyesal di kemudian hari)
vMembantu sesama :
Senatiasa berbagi kebahagiaan pada mereka yang kurang
beruntung sebagai wujud rasa syukur kita pada karunia Tuhan.
Bantuan tidak harus selalu berupa uang,
bahkan hanya dengan menyumbang sampah daur ulang dari
sisa belanja rumah tangga, kita dapat membantu masyarakat tidak mampu.
Misalnya saja barang-barang yang masih bisa di-daur ulang
kita sumbangkan untuk berbuat kebajikan / kemanusiaan lewat depo-depo
penampungan barang-barang daur ulang yang sekarang mulai marak digalakkan.
More we Give, more we Get (in many ways)…
Terimakasih Tuhan, yang telah mengkaruniakan hidup dan rezeki kami !
Semoga bermafa’at dan memberi inspirasi.
SEPOTONG KATA MA’AF BUAT SAHABATKU “MARS” Februari 12, 2009
Posted by elindasari in puisi.Tags: berselisih, ma'af, marah, Minta Ma'af, mohon ma'af, persahabatan, puisi ma'af untuk sahabat, puisi untuk sahabat, Sahabat
85 comments
Pagi ini ketika saya membaca salah satu komentar dalam blog saya, ada seorang blogger bernama “Mida”yang minta di buatkan puisi buat sahabatnya. Sepertinya Mida sedang bertengkar / berselisih / marahan dengan sahabatnya, dan ingin minta ma’af kepada sahabatanya itu.
Dari komentarnya juga saya menangkap sepertinya Mida sangat menginginkan kalau sahabatnya ini mau mema’afkan dirinya dan hubungan persabahatan mereka kembali terjalin indah seperti sedia kala.
Nah, berhubung blogger ini nggak memberitahukan nama sahabatnya itu disini saya coba ganti dengan sebutan “Mars”,hehehe…biar nama sahabatnya ini jadi sedikit unik.
Ok, untuk blogger “Mida” yang minta dibuatkan puisinya tadi, semoga puisi ini bisa memenuhi permintaannya, semoga berhasil menjalin tali persahabatanmu lagi. Bagi bloger yang lain kebetulan menemui kasus serupa, siapa tahu ini bisa dijadikan reference, atau sekedar menghibur.
Ok, selamat menyimak puisinya:

SEPOTONG KATA MA’AF BUAT SAHABATKU
“MARS”
Mars, Sahabatku !
Masihkan kau berkenan kusapa Sahabatku ?
Sungguh aku sangat “menyesal”, Mars,
Apakah penyesalanku ini masih berguna bagi seorang “Mars”?
(Aku sangat tahu jawabanmu, sahabat…)
(“Penyesalan tak ada gunanya, Nasi sudah jadi bubur !”)
Tapi, dihari ini aku ingin kau tetap tahu…
Aku sangat menyesal & penyesalan itu hanya dapat ku rasakan dalam hatiku sendiri,
Sungguh aku sangat menyesali, atas apa yang telah kulakukan padamu,
Aku sangat tahu sahabat,
Kau pasti kesal, marah, kecewa bahkan mulai benci padaku,
Aku sangat tahu sahabat,
Ada sepotong hati yang luka karena kelakuanku,
Mars, Sahabatku !
Masihkan kau mau mendengar suaraku Sahabat ?
Sudilah kau mema’afkanku,
Atas yang telah kulakukan padamu,
Ma’afkan kekhilafanku,
Sungguh aku mohon ma’afkan sahabat…
Mars, Sahabatku !
Masihkan kau rasa aku seorang Sahabat bagimu ?
Aku tak ingin jika aku kehilangan sahabat sepertimu,
Aku tak mau jauh dari seorang sahabat sepertimu,
Aku tak rela hari-hari ini hampa karena marah yang ada di hatimu,
Mars, sahabatku,
Yang ku mau hanyalah kata ma’af darimu
(Meski aku sangat tahu)
(Mungkin aku memang tak pantas kau ma’afkan)
Tapi kuberharap dan mohon dengan sangat,
Sepotong kata Ma’af,…ma’af…. & ….ma’af darimu,
Sekali lagi aku hanya minta sepotong darimu,
Maa’afkan aku, Sahabatku Mars…
(Semoga jika kau berkenan memberikan sepotong kata itu untukku, )
(Semoga kau akan tetap berkenan menaburkan tinta warna yang indah, )
(Bagi persahabatan kita, )
Aku tak pernah bosan menunggu,
Agar Kau, Aku, Kita selalu seindah pesona warna dalam hati,
Dalam hati sanubari “Persahabatan Kita”
(Puisi ini merupakan penyesalanku yang hanya bisa kuungkapkan lewat taburan tinta,
dan aku harap “MA’AF” darimu “Mars” Sahabatku)
Puisi ini kepersembahkan untuk : “Mida”
Semoga persahabatanmu terjalin kembali.
Semoga bermanfa’at & memberi inspirasi
Selangsah Asa Do’aku Februari 9, 2009
Posted by elindasari in puisi.Tags: Asa, Do'a, Selangsah
12 comments

Kala seberkas sinar terbersit jatuh di padang ilalang,
Tersentak aku terjaga dari bauian impian,
Aku menapakan langkah menyususuri sungai MU,
Tuk coba menemukan kembali kegaiban MU,
Suara jengkrik berceloteh riang menyusup…mengeletarkan hati,
Kegaduhan yang timbul terasa begitu hening,
Seakan diam…seakan tak bernyawa…sunyi dalam ramai,
Kurasa hanyalah aku sendiri kini,
Tuhanku,
Ampunkan hamba ini,
Andai KAU rasa aku mengusik istirahat Mu,
Karena dada ini seakan hendak meledak,
Menahan berjuta ritme yang menggemuruh,
Karena lama menahan rindu untuk MU,
Tuhanku,
Betapapun aku kadang jauh dari MU,
Coba Kau isyarakatkan padaku,
Bahwa Engkau selalu ada disampingku,
Seperti yang tertulis dalam ayat-ayat firman MU,
Laksana Matahari, Bintang dan Rembulan,
Menyirami dan melegakan jiwa ini,
Yang kadang terasa dahaga dikala hujan.
SAHABAT & PERSAHABATAN Februari 6, 2009
Posted by elindasari in Artikel.14 comments

Nah, kali ini saya mengajak para pembaca untuk menelah sejenak 2 kata
berikut yakni : ”SAHABAT & PERSAHABATAN”. Pasti sudah tidak asing
bukan ?. Kalau saya coba bertanya pada para pembaca sekalian,
”Apakah anda semua mempunyai teman, saya yakin pasti nggak ada yang
bila nggak ada”. (Kalau sampai ada yang bilang nggak waduh saya bingung
dech, hehehe…) Tapi coba kalau saya coba ganti sedikit pertanyaannya
menjadi ”Apakah anda mempunyai Sahabat dan Memelihara persahabatan
anda ?”. Hem… kali ini saya agak ragu kalau para pembaca semuanya
menjawab: ”Yah”, untuk kedua kata indah itu bukan ?.
Lalu keistimewaan apa dibalik kedua kata ”SAHABAT & PERSAHABATAN”,
yuk kita kupas sedikit. Coba, para pembaca coba ingat-ingat,
Apa saja yang kita alami / anda alami demi sahabat yang kadang-kadang
melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
anda mempunyai nilai yang indah dan makin berarti. Persahabatan sering
menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi
cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya. Persahabatan tidak
terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti
besi menajamkan besi. Demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka,
Kadang dihibur-kadang disakiti, Kadang diperhatikan- kadang dikecewakan,
kadang didengar-kadang diabaikan,kadang dibantu-kadang ditolak, namun
semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Itu yang membedakannya. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan
kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena rasa kasihnya
dia memberanikan diri untuk menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah
membungkus pukulan dengan ciuman (ini maksud implisit lho, karena
pukul-pukulan dan ciuman yang nggak semestinya dilarang, hehehe…),
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya
mau berubah, berubah untuk lebih baik bahkan jadi yang terbaik.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan
dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah
kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan
kasih dari orang lain, tetapi justru biasanya dia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.Asyik…
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis,
betul nggak ? Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun
tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang
telah menikmati indahnya persahabatan. Namun ada juga dan tak sedikit
yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. Nah, lalu kira-kira
faktor apa saja yang seringkali menjadi penghancur ”Persahabatan” ?.
Dari hasil pengamatan saya (hehehe jadi kayak detektif nich), sepertinya
hal-hal berikut ini yang paling sering menjadi pemicunya. Tapi ini hanya
sekelumit faktor lho, tidak menutup ada faktor kemungkinan lain.
Biasanya sich sbb:
1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit).
2. Ketidakterbukaan.
3. Kehilangan kepercayaan.
4. Perubahan perasaan antar lawan jenis.
5. Ketidaksetiaan.
6. Dsb
Tetapi penghancur persahabatan ini pasti berhasil dipatahkan oleh
sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.
(Khan kalau sahabat sejati pasti nggak krn faktor-faktor diatas dong…)
Nah, sekarang, coba anda Renungkan sejenak !
**Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang
mementingkan diri sendiri “. Karena biasanya dalam masa kejayaan,
teman-teman mengenal kita. Tapi bila dalam kesengsaraan, teman-teman
agak susah untuk mengenal kita.”**
**Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan.
Siapa yang berada di samping anda ?**
**Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai /
tidak dibutuhkan ?**
**Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satu apapun
yang dapat anda berikan ?**
Kalau ada menemukan satu atau beberapa nama maka berbahagialah
karena ”Merekalah sesungguhnya sahabat-sahabat anda”.
Jadi, jangan tunda waktu lagi, ”Hargai dan peliharalah selalu persahabatan
anda dengan mereka tadi”. ”Yuk jalin pertemanan agar bisa jadi sahabat,
lalu tingkatkan jadi persahabatan jadi persahabatan sejati …
biar kita semua jadi tambah erat, yuk….”
Ok, saya sudahi dulu bahasannya.
Semoga memberi manfa’at dan inspirasi.
RAHASIA PANGERAN (bag 5) Februari 3, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Celengan, hadiah, Ita, pangeran, Rahasia, sepeda mini, surprise, Tabungan, ulang tahun
8 comments
(Bagian 5)
Keesokkan harinya , sekitar jam 3 sore, aku, suami dan pangeran sudah
tiba di depan rumah ibu Ita. Tapi keadaan rumah tampak sepi dan
lenggang saja.
”Assalamualaikum”, ujarku, pangeran dan suami hampir berbarengan.
Sekali lagi kami mengulanginya, ”Assalamualaikum”
Tapi lagi-lagi kami tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah.
Lalu aku berinisiatif untuk bertanya kepada seorang tetangga yang berada
selang dua rumah dari rumah bu Ita. Kebetulan ibu ini sedang duduk-
duduk di terasnya.
”Ma’af bu… mau tanya, apa ibu tahu ibu Ita ada di rumah nggak ?”, tanya
saya kepada ibu ini.
”O, ibu Ita sudah sekitar 4 bulan ini pindah dari sini bu”, jawab wanita
ini pendek.
”O, begitu, ibu tahu nggak keluarga ibu Ita pindah kemana ?”, tanya
saya lagi kepada ibu ini.
”Hem…”, wanita ini tampak ragu menjawab pertanyaan saya.
“Ma’af bu…saya Bintang, kebetulan anak saya Pengeran adalah muridnya
bu Ita, saya ingin mengantar sesuatu buat ibu Ita. Apa ibu bisa kasih tahu
alamatnya bu Ita ?”, kali ini saya mencoba menyakinkan kepada mantan
tetangga bu Ita ini maksud kedatangan saya.
“O, begitu…Yach, sebentar dulu yach neng, saya coba tanyakan dulu ke
anak saya, rasa-rasanya pernah nyimpen alamatnya bu Ita, pas tempo
hari pindahan”, ujar wanita ini lagi bergegas meninggalkan kami sejenak.
Tak lama kemudian wanita ini kembali dan menyodorkan secarik
kertas, ”Ini neng alamatnya”.
”Wah, terima kasih banyak yach bu, kalau begitu kami pamit dulu, mau
langsung kesana”, ujar saya mengakhiri percakapan dengan wanita ini.
****
Ternyata agak susah juga mendapatkan alamat ini. Tak kurang dari
setengah jam perjalanan kami tempuh. Jalan menuju alamat ini agak
sempit dan banyak lubang. Kami sempat bertanya beberapa kali dalam
perjalanan kepada beberapa orang yang kami jumpai. Berbeda sekali
dengan rumah bu Ita sebelumnya.
Dalam perjalanan kesini, Pangeran mengutarakan kalau bu Ita memang
pernah cerita akan pindah ke kontrakan yang baru, karena kontrakannya
sekarang akan dipakai oleh yang punya rumah. Oooo…
Akhirnya pencaharian kami berakhir disebuah rumah yang mungil tanpa
pagar di sudut gang. Rumah ini kelihatannya cukup rimbun. Pot-pot bunga
dari kaleng bekas tampak menghiasi pekarangan rumah dengan anggun.
Bunga kuping kancil dan sirih gading nampak merambat di dinding samping
rumah. Meski rumahnya mungil dan sederhana, namun tetap tampak asri,
gumamku dalam hati.
Tiba-tiba keluar sesosok bayangan dari sampingku yang membuat aku
hampir terperanjat.
”Cari siapa yach ?”, ujar seorang laki-laki yang keluar dari samping rumah.
”Assalamualaikum pak”, ujarku agak terbata menyambut kehadiran laki-laki
ini yang juga langsung dijawab salam olehnya.
”Pak, apa betul ini rumah ibu Ita”, tanya saya lagi.
”O, betul, ini siapa yach ?”, laki-laki ini balik bertanya kepadaku.
”Saya Bintang, ini Pangeran putra saya,…muridnya bu Ita”, lanjut saya
lagi mencoba menjelaskan.
”Ayo, masuk bu Bintang, ayo Pangeran”, ujar laki-laki ini ramah.
”Sebentar yach saya suruh anak saya untuk penggil bu Ita dulu ke masjid,
tadi lepas Zuhur kebetulan ada pengajian”. Biasanya sich…lepas Ashar
udah pulang kok”, ujar laki-laki ini lagi sambil meminta anaknya ”Ali” untuk segera menyusul ibunya ke masjid tak jauh dari rumah.
Tak lama kemudian kami melihat ibu Ita dan anakknya di ujung gang.
Aku, pangeran dan suamiku bergegas menurunkan sepeda mini buat bu Ita.
Aku sengaja mengajak suami bu Ita untuk membuat sebuah surprise kecil
buat isterinya. Kebetulan suaminya bu Ita setuju. (Hehehe…dasar iseng….)
Nah, tepat ketika bu Ita dan Ali tiba di depan rumah dan mengucapkan
salam, ”Assalamualaikum”, kami serentak menjawab ”Waalaikumsalam”,
dan muncul secara bersamaan.
Kontan saja bu Ita agak kaget atas kehadiran kami di rumahnya.
Lalu kami meminta ibu Ita untuk menutup mata dan mengarahkannya ke
samping rumah. Untungnya bu Ita langsung menurut saja, atas permintaan
kami yang spontan dan tiba-tiba ini. Bu Ita menutup matanya dengan
kedua belah tangannya.
”Nggak boleh ngintip yach bu !”, ujar suami bu Ita nggak mau kalah untuk
beri kejutan kepada isterinya.
”Teretet…sekarang bu Ita boleh buka matanya”, ujar Pangeran setengah
berteriak.
Dalam sekejap bu Ita melepaskan kedua belah tangan yang tadi menutup
mukanya.
Melihat hadiah sebuah sepeda mini buat dirinya bu Ita tak dapat menahan
titik air matanya. Mata ini seketika jadi berkaca-kaca.
Bibir bu Ita langsung berujar ”Terima kasih yach bu, Pak, Pangeran”.
”Ibu jadi malu”, ujar bu Ita lagi dengan wajah yang mulai merona.
”Bu Ita ini sekedar hadiah dari kami di hari Ultah Ibu”. ”Terima kasih atas
bimbingan ibu Ita selama ini buat pangeran”. ”Semoga ibu Ita dan keluarga
berkenan menerima hadiah sederhana ini yach bu”, ujarku mewakili
Pangeran dan suami sambil memeluk bu Ita, yang masih menangis haru
sekaligus bahagia menerima semua ini.
****
Setelah menikmati hidangan teh hangat dan bakwan sayur yang sengaja
dibuat bu Ita akan kehadiran kami, kami mohon pamit. Aku, pangeran
dan suami diantar bu Ita sekeluarga sampai di ujung gang tempat suamiku
memarkir mobil.
”Sekali lagi terima kasih yach pak, bu, pangeran”, ujar bu Ita dan suami
mengantar kepulangan kami.
Kami semua selambaikan tangan perpisahan sore ini dengan berjuta
perasaan di dada kami. Perasaanku kali ini sangat berbahagia, karena
ternyata dibalik Rahasia Pangeran kali ini, menyimpan peristiwa yang
sangat berarti bagi seorang bu Ita. Guru yang selama ini telah membimbing
putraku jadi gemar melukis seperti diriku. Sekali lagi terima kasih bu Ita
dariku dan pangeran kecilku. Semoga ibu Ita dan keluarga selalu berbahagia.
Cerita ini kupersembahkan buat :
“Ibu Ita Ayuningtyas dan keluarga”
Semoga cerita tersebut bermanfa’at & memberi inspirasi.
RAHASIA PANGERAN (Bag 4) Februari 2, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: guru kesayangan, pangeran, Rahasia, sepeda, sepeda mini, Tabungan
4 comments

(Bagian 4)
”Ma, Pa aku sudah gunting gambar sepeda hadiah untuk bu Ita”, ujar
pangeran sambil menyodorkan 3 buah gambar sepeda mini kepada aku
dan suamiku secara bergantian.
”Menurut mama dan papa yang bagus yang mana?”, tanya Pangeran lagi.
”Pangeran, sepeda-sepeda ini harganya mahal lho”, bujukku dengan maksud
supaya anakku ini mengganti permintaannya.
”Mama, please”. ”Pangeran sudah ada uangnya enam ratus tiga puluh
lima ribu”, jawab Pangeran dengan muka penuh pengharapan atas
permintaannya, sambil meletakkan sejumlah uang diatas meja.
Terus terang aku dan suami agak terbenggong melihat gelagat putraku kali ini.
Akhirnya setelah aku dan suami menyelidiki dari mana uang tsb berasal kami
ketahui bahwa asal muasal uang tersebut.
Uang-uang itu dari celengan Pooh-nya, yang selama ini dikumpulkan Pangeran
setiap hari dari uang saku pemberian aku dan suami. Jadi kalau aku estimasi
tak kurang dari 3 bulan, uang tersebut di kumpulkannya.
Maklum terkadang aku agak sedikit sewot ketika Pangeran menagih untuk
minta uang sebesar Rp. 5000,- hampir setiap sehari, tanpa alasan yang
kutahu, hehehe…
Berbeda dengan suami yang selalu rajin memberi tanpa ambil pusing, hihihi…
Kini aku dan suami jadi tahu apa yang ada dipikiran Pangeran, yang selama
ini menjadi ”Rahasia Pangeran”. Pangeran kecilku ini ingin memberikan
sebuah hadiah yang istimewa buat guru kesayangannya bu Ita, dari
tabungannya sendiri.
Aku dan suami sangat maklum akan hal ini. Karena kegemaran Pangeran
menggambar dan melukis dari TK dulu, membuat bu Ita jadi lebih akrab
dengan putraku dan keluargaku.
Aku dan suamikupun akhirnya setuju, bahwa tak ada salahnya
membahagiakan orang yang disayangi Pangeran, selagi kami mampu
dan diberi kesempatan untuk dapat memberi sesuatu buat orang lain.
Mengapa tidak, itulah kira-kira jawabnya. Karena aku sangat yakin
bahwa Tuhan memberikan kami kemudahan rejeki, kebahagian bukan
hanya untuk kami nikmati sendiri. Toh, ada andil dari orang-orang seperti
bu Ita dkk, sekali lagi aku gumam sendiri dalam hati. Tapi kali ini sambil
bergegas mengajak Pangeran dan suami ke toko sepeda.
****
Singkat cerita, di toko sepeda akhirnya Pangeran menjatuhkan pilihannya
kepada sebuah sepeda mini berwarna biru bercampur corak putih.
Didepannya terpasang sebuah keranjang berwarna perak. Dibelakang
sepeda itu ada boncengan yang dilengkapi jok busa lembut dibungkus
warna biru tua. Tampak manis dan anggun untuk ukuran sebuah sepeda mini.
Aku sengaja minta si empunya toko untuk sekalian melengkapinya
dengan kliningan (bell) kecil di stang kirinya. Juga sepasang injakkan
kaki bagi yang diboceng.
Sekarang sepedanya sudah siap dibawa pulang. Kulihat mata Pangeran
berbinar-binar, wajahnya tampak berseri.
(Ah, mungkin anakku ini sedang bercengrama dengan malaikat-
malaikat kecil hasil halusinya…)
(Dan tak lama kutatap wajah ini, hati kecilkupun sontak berkata :
Alhamdullillah Tuhan, Engkau memberikan kepada kami anak yang
mempunyai kepekaan yang dalam terhadap orang lain. Amien, amien
ya robbal alamien, sekali lagi aku bergumam dalam hati kecilku).
Berlanjut….