jump to navigation

NOVEL ke-4 KARYA ANDREA HIRATA “MARYAMAH KARPOV” Januari 7, 2009

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , , , , , ,
trackback

maryamah-karpov

 

Pada hari Jum’at, tanggal  28 November 2008 yang lalu, akhirnya novel yang

sudah lebih dari setahun saya tunggu akhirnya terbit juga.  Maklum mungkin

selain saya tentu masih banyak penggemar yang lain, yang juga  menunggu

kehadiran novel ke empat karya Andrea Hirata ini, yang katanya adalah novel

pamungkas dari novel Tetralogi ini. 

 

Sebelumnya saya sudah lebih dulu menamatkan / membaca plus menghayati

kisah yang dituangkan dalam novel ini,  mulai dari Laskar Pelangi, Sang

Pemimpi dan Edensor. 

 

Dari cover judul novel ini nya tertulis:  Mimpi-mimpi Lintang,  

“Maryamah Karpov”.

 

Tapi agak disayangkan, setelah saya selesai menamatkan bacaan novel

keempat ini ada kesan yang berbeda dari 3 novel sebelumnya.  Kalau pada

ketiga novel sebelumnya ada perasaan yang begitu mengharu biru, motivasi

yang tinggi dan semangat yang begitu mengebu, ada sejuta perasaan yang

bercampur baur jadi satu, tidak begitu saya dapatkan pada novel keempat ini. 

Meski novel ini tebalnya mencapai 504 halaman, tak dapat kupungkiri kalau

saya harus jujur mengatakan saya menyimpan rasa agak kecewa

(Ma’af yach Mas Andrea, tapi ini pengakuan jujur lho…)

Menurut saya tentang novel ini sbb :

Pada novel ke empat ini Andrea Hirata lebih banyak menyajikan

ketrampilan melucu dengan guyon-guyonan khas belitongnya, yang menurut

penelaah-an saya seringkali menjadikan isi cerita menjadi tanpa makna. 

Malah pada lembar-lembar tertentu (agak pertengahan) terkesan monoton

dan mulai membosankan.  Berbeda dengan novel Laskar Pelangi dan

Sang Pemimpin yang begitu menggelora, bersemangat, masalah dijadikan

pemicu, kondisi yang serba kekurangan dijadikan cambuk, ibarat matahari

yang selalu terbit dan terik membara begitulah gambaran saya terhadap

novel sebelumnya karya Andrea ini. 

 

Namun pada novel Maryamah Karpov ini terkesan sekali kalau saya disuguhi

berpuluh lembar bacaan yang terkesan disodori kisah-kisah yang agak asing

(kurang dipahami) oleh orang yang kemungkinan tidak mengenal secara

detail tentang budaya Belitong atau Melayu, seperti cerita tentang bagaimana

terbentuknya nama-nama pangilan para pelanggan warung kopi, para tetangga,

orang-orang yang disajikan dalam cerita yang satu persatu tanpa kecuali.

Terus terang saya jadi berhalusinasi apakah demikiankah potret orang-orang

yang diceritakan penulis dalam hal ini Andrea, yang dari novel sebelumnya

sangat memoar novelnya yang sangat fenomenal dan mengakhiri ceritanya

di novel pamungkasnya begini ?.

Ah, mungkin saya berharap berlebihan, yang menurut kacamata saya

seorang Andrea Hirata tampak sekali ingin menyampaikan pesan-pesannya

melalui gambaran yg metaforik.  Saya hanya agak sulit membayangkan penulis

yang tadinya notabene lulusan S2 dari Sorbonne (Perancis) untuk bidang

yg cukup bergengsi, namun dalam cerita ia memilih bekerja  rodi sebagai kuli

timah harian di waserei seusai pulang dari tempatnya. Bukankah dulu Ikal

meraih semua impiannya yang begitu menggebu dan membakar semangat

semua orang yang membacanya. Kok setelah impiannya terwujud malah

begitu ?.  Terus terang saya jadi sedikit khawatir, kalau novel keempat ini

malah menjadikan cerita yang telah dibangun begitu tinggi pada novel-novel

pendahulunya berakhir dengan terjun bebas. 

(Duch apa hanya pemikiran saya saja yach ???)

 

Di Novel ini di ceritakan kalau Ikal akhirnya memutuskan untuk membuat

sendiri kapal layar 11 mtr.  Bahannya dari menebang pohon seruk yang

diambil di hutan dan yang paling dasyat sampai mengangkat kapal perompak

yg terbenam ratusan tahun dengan kaidah fisika anak SMP (Lintang). 

Memang si Lintang cerdas, tapi apa Ikal kalah teori setelah sekian lama

bergelut dengan dunia pendidikan yang begitu mempesona. 

(Andrea gimana nich saya jadi diprotes anak saya yang masih berusia

9 tahun lho, ketika mencoba menceritakan kisah ini.  Nah lho anak saya aja

protes, gimana yang lain, hehehe).

 

Lalu Ikal berkeras hati mengarungi Selat Malaka yg ganas, bertemu kawanan
lanun dan kisah-kisah lain yg karikatural. Hem, saya mencoba menikmati cerita

ini sebagai cerita yang banyak berhalusinasi, karena pembaca cenderung diajak

untuk membayangkan cerita-cerita agak klasik yang kurang nyata, dan saya

boleh berkata kalau pada novel Maryamah Karpov ini lebih cenderung / sangat

dominan cerita yang bersifat sebagai karya fiksi.

Kalau dulu saya sangat penasaran dengan keberadaan Lintang, dan bagaimana

sosok dan keberadaannya di novel ini terjawab sudah meski menurut saya kesan

yang disampaikan seolah dipaksakan, sehingga semakin memperkuat dugaan

saya kalau sosok Lintang itu hanya fiktif. (Hem, sedih dech….)

 

Lalu, diceritakan pula pada bab-bab berikutnya tentang kesepuluh kawan

laskar pelangi yang nampak dibuat agak misterius persisi dongeng pencak

silat, hehehe datang tak diundang, pergi tanpa pamit (jadi ingat jailangkung, hihihi).

Begitu saja muncul mana kala sang tokoh menghendaki. Terkesan hanya

menyampaikan hasrat kerinduan pembaca akan tokoh laskar pekangi yang lain,

meski hanya sekilas saja.  Hem, lagi-lagi mungkin penulis agak kehilangan

session cerita yang mengundang minat pembaca, agak karikatural.

 

Terus ada cerita tentang adegan mencabut gigi. Dibuat sedemikian heboh hingga
dihadiri oleh puluhan masyarakat desa, seolah apapun yg akan ditulis akan

dibaca sepenuhnya oleh pembaca. Terus terang saya agak malas ketika membaca

bab ini yang menurut kacamata saya terkesan dipaksakan jadi bagian cerita

di novel ini.. Terus terang ketika membaca bab ini jadi sekilas terkenang cerita

film pirate of  carribean, atau Tom Hanks dalam cast away yg mengalami

masalah sakit gigi di sebuah pulau terpencil. Saya agak kesulitan / tidak jelas

untuk menarik benang merah cerita yang ingin disampaikan disini.

 

Hanya kisah tentang Arai yang sedikit menghibur.  Karena diceritakan kalau

Arai akhirnya mendapatkan belahan jiwanya (cinta pertamanya) yang selalu

dipujanya sejak dibangku SMA “Nurmala” yang akhirnya dapat dipersunting

jadi pendamping hidupnya.  Disini juga saya sangat bersuka cita karena

akhirnya Arai dapat melanjutkan kembali pendidikannya di Sorbonne yang

sempat tertunda karena sakit yang diderita.  Arai kembali ke Perancis bersama

ditemani Nurmala. So…sweet, hehehe.

Tetapi, meskipun demikian, novel ini tetap bagus untuk dibaca, setidaknya

saya dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan.  Pada novel ini tetap

berisi tentang keteguhan hati seseorang yang penuh suka, cita, penuh pengorbanan

dalam mengejar cita-citanya.  Tetap ada sajian yang menarik mulai dari dendang

suka-suka yang membuat saya tertawa terkekek-kekek. Tetap ada air mata

ketika Ikal menceritakan kepolosan dan keluguan bapaknya yang gagal

dinaikkan pangkat karena ada sesuatu hal (tidak berijazah), tetap ada asa

bagi Ikal untuk terus berlari mengejar dan menggapai impiannya. 

Pada session-session cerita ini saya sangat suka. Saya sangat menikmati

untaian kata-kata yang tersusun indah dalam paragraph-paragraph yang

menjadi ciri khas karya Andrea yang penuh gelora, hem sangat mengagumkan.

 

Meskipun disajikan secara implisit, karena yang dijadikan momen kali ini

adalah cerita tentang keteguhan Ikal untuk membuat perahu, pertualangannya

mewujudkan semua impiannya untuk bertemu belahan hatinya Aling. 

 

Disini berbagai cerita satire dan kisah para perompak kapal, para lanun

tampaknya diberi penekanan khusus.  Karena pada beberapa bagian

dilengkapi dengan berbagai study literature. Saya melihat bahwa Andrea

ingin terus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dalam pemecahan setiap masalah

yang dihadapi, mungkin kalau ditambah bagian cerita yang bersifat lebih ilmiah

 akan lebih elegant daripada topic yang sekarang diusung secara mistik.

 

Disini ada beberapa bagian ganjil, kisah tawar-menawar sahabat Ikal bernama :

Mahar dengan Tuk Bayang Tula yang berakhir dengan upeti TV hitam putih

powernya pakai baterai, jadi cerita yang berkesan dibuat-buat.  Menurut saya

agak aneh.

Ketika menceritakan tentang keberadaan Lintang yang sering datang dengan

keajaib-keajaibannya yang terkadang tak masuk akal disatu sisi semakin

menegaskan bahwa tokoh ini adalah tokoh kembarnya Ikal.

(Hem, jadi sedih lagi nich…)

 

Mungkinkah tokoh ini disengaja disajikan sebagai bumbu cerita.  Hal ini

berkaitan dengan perdebatan yang sudah lama muncul, mulai dari penayangan

di acara Kick Andy yang dijawab agak ganjil oleh Andrea dengan tokoh

Lintang di foto yang dijawab oleh Adrea “Rahasia”. 

 

Terus ibu Muslimah sebagai guru sekolah laskar pelangi pun tidak mengetahui

siapa yg dimaksud Lintang oleh penulis. Lalu pengakuan rekan-rekan anggota

laskar pelangi yang lain yang bilang kalau yang terpandai itu adalah Andis

(sebutan lain utk Andrea atau Ikal), jadi aneh bukan ?

Karena murid seperti gambaran Andrea sengaja “disembunyikan” dengan

membuang tokoh tersebut ke pulau lain. (Duch tambah sedih nich saya…)

Terus pada bagian-bagian akan berakhirnya novel ini dibahas hubungan Ikal

dng Aling setelah diketemukan berkesan masih mengantung.  Belum tamat,

bahkan sampai halaman terakhirnya masih belum berakhir.

(Hahaha, bisa aja nich Andrea)

 

Belum lagi kalau saya membahas mengenai judul novelnya yang diberi title

“Maryamah Karpov” kok, tambah ganjil lagi nich. Karena pada novel ini

nyaris tidak disinggung sama sekali soal maryamah, justru yang dibahas tokoh 

Nurmi anak dari wak Maryamah yang pandai bermain biola.  Cerita tokoh

Maryamah Karpov sendiri hanya sedikit dikupas yang hanya menceritakan

dia adalah pemain catur dan sesekali muncul di warung kopi. Kok bisa di

beri embel-embel Karpov yach (maksudnya Anatoly Karpov, kali yach ?)

 

Ikal sempat bermain biola, diajari Nurmi dalam waktu yang lumayan singkat,

hehehe.

Hem, seharusnya saya tidak perlu risau soal fiksi-non fiksi, yach (gitu aza kok

repot….hehehe, seperti kata gur dur) jika saja, tidak  ada iklan / kampanye

yang agak heboh bahwa kisah ini seolah memang nyata.

 

Tetapi meski saya agak kecewa (tidak sebanding dengan penantian saya akan

 lamanya menunggu novel ini dan harapan saya akan isinya yang fenomenal),

yang kenyataannya berakhir dengan cerita dalam novel yang agak hambar,

saya tetap mengacungkan “jempol kanan kiri buat Andrea Hirata”. 

“Terima kasih atas persembahannya yang indah”, yang sudah banyak

mengugah pembaca lewat karya-karyanya.  Filmnya dasyat, meski menurut

saya tetap paling top novelnya. 

 

Saya selaku pecinta sastra tetap menunggu novel –novel karyamu yang lebih

dasyat selanjutnya, agar negeri ini punya karya yang patut dibanggakan. 

Sekali lagi terima kasih buat Andrea.  Ma’af kalau kulasan saya pada artikel

ini ada yang tidak / kurang berkenan baik bagi Andrea sendiri dan penggemar

Andrea yang lain yach.  Terima kasih buat  Laskar Pelangi …

 

About these ads

Komentar»

1. heril - Januari 7, 2009

eh boleh tau g donlot ebook ini dmn?
kasi alamat situs nya dong

@Wah, ma’af heril sementara saya belum tahu situsnya. Mungkin ada teman2 blogger lain yang bisa bantu heril ?
Terima kasih atas kunjungannya heril :) :) :)
Best regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com

2. Eka Riyadi sell lcd hdtv 1080p - Januari 9, 2009

download di google aja dengan keyword “download novel maryamah karpov”

@Terima kasih atas informasinya Eka :) :) :)
Best regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com

3. xentala - Januari 14, 2009

lam knal elinda…
suka novel juga yah, sama donx…
klo adventure suka gx???
Main2 ya ke blog kita di :
http://www.xentala.wordpress.com
jangan lupa tinggalin jejak di page friend of xentala

Best regard,

xentala

@Yap, saya suka baca termasuk novel. Tapi sayang terkadang tidak semua bacaan kini dpt saya selesaikan dalam waktu singkat krn byk kesibukkan. Tapi yang namanya baca tetap disempetin. Adventure belum sempat baca, infoin sinopsisnya dong. Thanks atas kunjungan dan infonya yach :) :) :)

Best regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com

4. TheKRY - Januari 14, 2009

Asli disini laku keras nih buku

@Yap, karena para pembaca pada penasaran isi bukunya. Terima kasih atas kunjungannya kang dekray :) :) :)
Best regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com

5. tutinonka - Januari 18, 2009

Nampaknya Andrea agak terbebani dengan kesuksesan tiga novel sebelumnya, sehingga jalan cerita Maryamah Karpov terkesan agak ‘dipaksakan’. Menurut saya, MK memang tidak harus kita baca sebagai ‘kisah sungguhan’. Ini adalah novel parodi, ditulis dengan gaya comics, semacam karikatur.

@Yap setuju mbak Tuti. Kita para pembaca pada maklum hehehe….
Terima kasih atas kunjungannya mbak Tuti :) :) :)
Best regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com

6. villabalivilla - Januari 29, 2009
7. muthia - Februari 21, 2009

Yes saya jg sependapat dg tutinonka,novelnya malah berasa jadi makin kabur..saya malah jadi ga semangat jikalau mas andrea menerbitkan novel seri ke5nya..jauh dari greget untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Dan yang terpenting, saya jadi yakin bahwa sebagian dari novel ini dibungkus fiksi..tak seperti 3 novel pertamanya, yang mengharukan dan realistis..

@Hem, iyach, tapi meski begitu kita tetap bangga punya Andrea Hirata yang telah bersusah payah menghasilkan suatu karya, meski untuk “Maryamah Karpov”nya kurang greget dibanding 3 novel terdahulunya :) :) :)
Terima kasih sudag singgah kemari Muthia :) :) :)
Best regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com

8. eng - Mei 15, 2009

thankx y bwt novelx aq sampe tunggu berhari-hari biar bisa baca goooooooooooooood bgt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

@Ok, terima ksih juga eng :)
Best regard,
bintang

http://elindasari.wordpress.com

9. pangeran xano moriz ae - Februari 27, 2010

bgus bgt……….co cwet dah…………..

10. kurni - September 23, 2010

paling tidak tetralogi sudah lengkap…..ayem….aku juga ayemmm…makasih mas andrea….
o iya “ayem”=”damai”


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: