jump to navigation

KISAH CINTA SEORANG IBU BUAT ANAKNYA September 4, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , ,
trackback

Ketika saya membaca buku yang berisikan, kata Renungan dari Master Cheng Yen (Pendiri Yayasan Budha Tzu Chi), disana beliau memberi petuah bahwa “Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam kehidupan”, yaitu : pertama, Berbakti pada Orang tua dan kedua adalah Melakukan kebajikan.  Saya jadi teringat, tentang Kisah Cinta seorang Ibu buat anaknya.

 

Nah, para pembaca penasaran ingin tahu ceritanya, yuk disimak :

 

Ini terjadi di sebuah desa disuatu negeri, dimana ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya ini mempunyai tabiat yang sangat buruk.  Kelakuan anaknya ini suka mencuri, berjudi, mabuk-mabukan dan banyak lagi perbuatan tercela lainnya.

 

Si Ibu ini jadi sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun dirinya tetap sering berdo’a memohon kepada Tuhan, “Ya, Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang, tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya dia tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.”

 

Tapi malang, si ibu tetap saja mendapatkan kelakuan anaknya buruk, malah semakin lama, kelakuan si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya.  Saking sudah sangat sering melakukan kejahatan, anaknya ini sampai keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

 

Suatu ketika si anak yang nakal ini kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap basah. Dia di hajar penduduk dan kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan akan dijatuhi hukuman pancung.

 

Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada sa’at lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

 

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Beliau menangis meratapi nasib anak yang dikasihinya dan tetap berdo’a, berlutut dan bersujud kepada Tuhan, “Ya, Tuhanku yang Maha pengampun, mohon ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya”, suara parau ibu ini tiada henti emohon kepada-Nya.

 

Lalu, dengan langkah tertatih-tatih ibu ini mendatangi raja negeri tersebut dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan raja sudah bulat, demi menegakkan keadilan di negeri tersebut, anaknya harus tetap menjalani hukuman.

 

Dengan hati yang hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tapi ibu ini tetap tak hentinya dia berdo’a supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan sang pencipta. 

 

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong akan menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Si anak yang nakal ini mulai membayangkan, bahwa di matanya kini hadir wajah ibunya yang sudah tua dan tak lelah selalu menasehati dan mendo’akan dirinya agar kembali ke jalan yang benar, dan tanpa terasa ia menangis da mulai menyesali perbuatannya. Namun nasi sudah menjadi bubur.  Dia harus tetap menjalani hukuman atas perbuatannya.

 

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Petugas mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

 

Sa’at mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Kucuran darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan sa’at beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah tadi.

 

Tahukah pembaca apa yang terjadi ?

 

Ternyata di dalam lonceng itu ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

 

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata karena sedih, haru dan sangat iba. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan, dan mulai menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

 

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

 

(Demikianlah cerita yang mengisahkan bagaimana sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya. Betapapun jahat si anak, ibu akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya ! ).

 

Semoga cerita diatas dapat mengingatkan kita, agar kita seantiasa mengasihi orang tua kita, selagi kita masih mampu, karena mereka adalah sumber kasih dan cinta bagi kita di dunia ini.  Dan semoga dapat dijadikan bahan renungan utk kita, agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

Jadi, mulai sekarang ambillah waktu :

untuk berpikir, karena itu adalah sumber kekuatan.

untuk bermain, karena itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.

untuk berdoa, karena itu adalah sumber ketenangan.

untuk belajar, karena itu adalah sumber kebijaksana.

untuk mencintai dan dicintai, karena itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.

untuk bersahabat, karena itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
untuk tertawa, karena itu adalah musik yang menggetarkan hati.

untuk memberi, karena itu membuat hidup terasa berarti.

untuk bekerja, karena itu adalah nilai keberhasilan.

utk beramal, karena itu adalah kunci utk menuju surga.

 

Oleh karena itu gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali. Semoga Setiap Anak dapat berbakti pada kedua Orang Tuanya dan selalu berbuat Kebajikan.

 

Semoga mamberikan manfa’at dan inspirasi.

 

About these ads

Komentar»

1. yulism - September 4, 2008

Cerita yang sangat menyentuh dan bahan renungan yang sangat dalam tentang orang tua. Terimakasih Mbak Elindasari sudah berbagi.

2. Farijs van Java - September 4, 2008

ummiy…

(^_^)v

3. arch222 - September 4, 2008

hi… hi… hi…
konon jauh di sebuah peradaban masa lampau di negeri Tirai Bambu, China. Di masa mana tulisan ini mulai diceritakan turun temurun hingga kini tak luntur dan membudaya…
adalah seorang anak yang terbilang jahat dan mau menang sendiri
setiap pulang ke rumah bak penagih hutang yang tak berperi kemanusiaan menghajar orang tuanya jika dihatinya tidak berkenan
apalagi jikalau makanan di rumah tidak tersedia. kejadian ini berlanjut hingga si anak pergi merantau dan tak kunjung pulang.
Oleh kedua orang tuanya yang menderita ( memang sih sedikit bersyukur tak kebagian gebukkan ) masih memohon kepada sang Khalik ( waktu itu Langit – Biru( birunya istilah aku sendiri ) ) agar anaknya diberi kesehatan dan keselamatan entah di mana berada.

Hingga suatu hari ketika anaknya melihat bagaimana anak kambing menyusu pada induknya – harus berlutut – saat itu juga sang anak merasa bersalah dan bersedih hati menyesali tindakkannya selama ini. Dalam hatinya ia bertekad untuk pulang dan memohon maaf pada kedua orang tuanya atas tindak kasarnya selama ini.

nah… saat anaknya tiba di gerbang kampung dengan cepat berita kepulangannya tersebar. Akhirnya sampai di telinga bapaknya yang lagi kerja di sawah. Sang bapak berlari pulang mengabari istrinya di rumah. Namun sayang saat bapaknya baru menceritakan kepulangan anaknya pada istrinya sang anak sudah sampai di halaman depan rumah.

Tak diyana suami istri tua renta itu segera melarikan diri dari pintu belakang rumah saat melihat anaknya mengacungkan bungkusan dan berlari ke arah keduanya. Sangkin takutnya kedua orang tua itu berlari hingga ke tepian sungai sementara si anak mengejar semakin mendekat. Kedua orang tua itu serta merta menceburkan diri ke sungai dan tak muncul lagi. Si anak yang sampai ke tepian berteriak memanggil dan mencari kedua orang tuanya. Hingga sore tiba si anak hanya melihat dua potong papan yang tiba-tiba muncul.

Dengan langkah lunglai si anak menangis di sepanjang jalan pulang sambil membawa kedua potongan papan. Sesampai di rumah si anak membuat altar untuk berdoa dan menempatkan ke dua papan yang telah diukir nama orang tuanya sambil meratap si anak memohon pengampunan pada kedua orang tuanya.

Dan di atas meja altar disajikan bungkusan yang dibawanya yang berisi makanan, pakaian dan sejumlah uang emas dan perak hasil kerjanya selama di perantauan. Untuk menunjukkan betapa sang anak sangat menyesali perbuatannya, si anak senantiasa mengulangi acara persembahan dan doa-doa setahun sekali pada hari di mana kedua orang tuanya meninggal /menceburkan diri ke sungai.

Kini di zaman modren ini kita masih menjumpai kegiatan yang sama bagi orang keturunan China untuk menjalani upacara persembahan kepada leluhur. Dengan sebuah catatan yang harus dilakukan oleh setiap yang muda untuk patuh dan hormat kepada kedua orang tuanya dan atau pada orang yang lebih tua darinya.

Perintah Ke-4 dalam 10 Perintah Tuhan berbunyi HORMATILAH IBU BAPAmu, dan orang China melaksanakan seumur hidupnya.
(memang sih… tetap saja ada anak yang durhaka )

4. hedi - September 5, 2008

Cerita yang sangat menyentuh, begitu besarnya kasih sayang orang tua kepada anaknya yang belum tentu kita sebagai anaknya akan berkorban sedemikian besar

5. David Pangaribuan - September 9, 2008

Sungguh menyentuh, tanpa kita sadari hal ini sering terabaikan. Waktu terus berjalan dan mari kita lebih memberikan perhatian kepada Orang tua kita selagi kesempatan itu masih ada.
Salam kenal ya

6. sule - September 24, 2010

ya allah ampunilah segala dosa2 ku
ibu maaf kan lah aku dengan
dosa2 ku ini

7. Jenny - November 16, 2010

Oh sunguh menyentuh.emang kasih ibu tiada taranya……uhh Love u Mom…berharap aku dilahirkan kedunia untuk menambah kebahagiaan dalam hidupmu…….dan terima kasih ama Tuhan karena aku menjadi anakmu….

8. rieta - Maret 16, 2011

ya Allah ampuni dosa2ku,,, ibuku ayahku maafkan anakmu yg selalu menyakiti hatimu,selalu menyusahkanmu, sunggu anakmu tak sanggup membalaz semua yang telah ayah ibu berikan … maafkan aku ibuku, maafkan aku ayahku ;'(

9. tri widodo - Maret 24, 2011

ibu……….
aku akan selalu mencintaimu….
selamanya

10. Roza Ismarni - Oktober 18, 2011

Begitulah cinta seorang ibu….

11. henny nova tambunan - Desember 22, 2011

Sangat terharu

12. Aderia Septiani - Januari 17, 2012

sungguh terharu… :(
saranghae eomma


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: