PERJALANAN NAPAK TILAS SEJARAH INDONESIA (Part 5) MUSEUM SEJARAH JAKARTA Agustus 27, 2008
Posted by elindasari in Belajar.Tags: Balaikota, Batavia, Dewan Kotapraja, Fatahillah, museum sejarah Jakarta, Raden Saleh
trackback
MUSEUM SEJARAH JAKARTA
Kali ini saya dan rombongan dipandu guide sejarah dari komunitas historia berkunjung ke Museum sejarah Jakarta. Pada sa’at saya dan rombongan tiba disini kebetulan sudah agak siang (+/- jam 11 siang). Cuaca mulai terik, tapi untungnya anak saya yang berusia 9 tahun yang ikut serta dalam rombongan masih enjoy melanjutkan tour, jadi terik matahari yang sempat menyengat tidak jadi penghalang (kan udah pakai topi rimba hehehe).
“Museum Sejarah Jakarta” berada di jalan Taman Fatahillah No.1. Sehingga orang-orang sering juga menyebut museum ini dengan sebutan “Museum Fatahillah”.
Awalnya gedung ini difungsikan sebagai Gedung Balaikota (Staadhuis) pertama di Batavia yang dibangun pada tahun 1627. Sedangkan tambahan pada gedung aslinya dibuat antara tahun 1705 – 1715.
Alun-alunnya disebut “Stadthuisplein” yang artinya “Lapangan Balaikota”.
Pada tahun 1970 gedung ini dipugar dan pada tanggal 4 April 1974 diresmikan sebagai “Museum Sejarah Jakarta”
Dulunya selain sebagai Staadhuis, gedung ini juga menjadi “College van Schepen” (Dewan Kotapraja) yang menangani berbagai perkara pidana dan perdata antar warga kota Batavia.
Hal ini dapat dilihat dari lukisan yang tergantung di lantai 2 bangunan ini. Disitu terpajang 3 macam lukisan mengenai peradilan pada masa itu. (Hem pokoknya unik dan keren banget deh, karena ada ceritanya).
Di museum ini terdapat sejumlah koleksi antara lain : Uang logam zaman VOC, aneka dacin / timbangan, perabotan rumah tangga antic dari abad 17 s/d 19 mulai dari ranjang, kursi, meja, ranjang anak, lemari-lemari arsip yang berukuran raksasa, benda-benda arkelogi dari masa pra- sejarah, masa Hindhu Budha hingga masa Islam.
Disini juga saya jumpai sebuah pedang asli yang pernah dipakai untuk menebas leher para terhukum pada sa’at itu. Menurut info dari guide pemandu kami, pedang tersebut pernah digunakan untuk menebas 3-4 kepala terhukum sekaligus. (Hi…serem dan buat hati jadi meringgis deh).
Ada juga meriam kuno, bendera dari zaman fatahillah, dan juga tak kalah menarik adalah koleksi-koleksi lukisannya (hehehe maklum saya termasuk pecinta lukisan). Lukisan-lukisan yang terpajang disini karya dari Raden Saleh, ada juga potret Gubernur Jenderal VOC, terus lukisan Mr. Doo Et dan isteri (Orang Belanda yang terkaya pada sa’at itu di tanah Batavia) dan dari nama itulah akhirnya kita mengenal istilah “Duit”dan juga peta-peta tua.
Ok, sekian dulu cerita saya tentang Museum Fatahillah. Kalau para pembaca penasaran ingin melihat langsung, museum ini sangat mudah dicapai karena berada di pusat kota. Saya yakin pengunjung tidak bakalan kecewa dengan wawasan & pengetahuan yang akan diperoleh dari jalan-jalannya.
Sambil tetap menikmati kemegahan Museum ini saya & rombongan beranjak, mulai menyusuri Taman Fatahillah. Baca cerita selanjutnya yach …
Semoga cerita diatas memberikan inspirasi & manfa’at.



OOhh, baru tau. Benera tuh mbak asal kata “DUIT”? interesting. thanks
@ Ya betul, mbak…jadi tambah penasarankan ?…hehehe… kalau ke Jakarta jangan lupa mampir ke museum ini, dijamin suka deh

Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com