BINTANG KECILKU Juli 25, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: anak, Bintang kecilku, hidupku, Permata Hati
8 comments
Bintang kecilku,
Lucunya dirimu,
Lucunya tingkahmu,
Yang selalu buat aku gemas padamu,
Bintang kecilku,
Indahnya mata itu,
Indahnya binar cahayamu,
Kala kau selalu memandangku,
Bintang kecilku,
Hangatnya pelukmu,
Hangatnya dekapmu didadaku,
Kasihmu hanyauntuk diriku,
Bintang kecilku,
Sahdunya celotehmu,
Romancenya ucapmu,
Kala memanggil namaku,
Bintang kecilku,
Kan kugengam erat jejarimu di tanganku,
Kanku dekap kau selalu didadaku,
Kanku berikan kasihku hingga akhir hidupku,
Kanku ukirkan namamu dalam tiap langkahku,
Disetiap tarikan nafas hidupku …..
kupersembahkan untuk : Anakku
Andai Aku Bisa Sahabat Kecilku… Juli 24, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Anak-anak, Andai Aku bisa, Pengemis Jalanan
4 comments
Andai Aku Bisa Sahabat Kecilku…
Lebih dari setengah kiloku berjalan,
Menyusuri padang keramaian kota Jakarta,
Kulalui perjalanan berteman deruh debu yang berlalu lalang,
Tuk sejenak bertemu sahabat kecilku,
Berpostur kecil lekat dengan propertinya yang hitam kumal,
Diujung trotoar jalan,
Istana sahabat kecilku di lorong jembatan,
Beratapkan cahaya rembulan,
Bertiang kaki langit dibawah temaram,
Yang akrab dengan kubangan kebisingan,
Kala bersuah sahabat kecilku,
Kudengar jerit perih hatinya,
Sahabat kecilku bertanya,
Tentang arti kasih sayang,
Tentang rasa kenyang,
Tentang kehangatan,
Tentang keindahan,
Sahabat kecilku hanya mampu mengimpikan semua itu,
Kudengar lagi cakap dari bibir mungilnya,
Mata senduhnya mengharu mendung dan kelam,
Mata sayunya menerawang jauh terbang membahana,
Seakan ingin cepat melewatkan hari-harinya yang kelam,
Sahabat kecilku,
Jangan menangis meski kau selalu bergumul ikatan duka,
Jangan merintih meski perutmu terkadang perih karena lapar,
Jangan bersedih meski luka selalu menorehmu,
Jangan berhenti berharap meski suaramu tak lagi didengar,
Jangan putus asa meski asa tak selalu kau raih,
Sahabat kecilku,
Andai puasamu cukup hanya dahaga,
Andai mulut kecilnya selalu tersenyum dan tertawa,
Andai Indahnya matamu masih terbuka bagai jendela cakrawala,
Andai uluran lengan kokoh itu dapat kau sentuh,
Andai keletihan hidup mu, semua lukamu,
Bisa kurengkuh, bisa kuhapus,
Dengan hembusan aroma suka cita,
Kan kuganti semua dukamu dengan berjuta kemapanan !
Goresan ini kubuat untuk :
Anak-anak pengemis jalanan
I Open Wide My Arms Juli 23, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Loneliness, Love, My Best Loved
2 comments
I Open Wide My Arms
Hemm, where are you now ?
You gone from my embrace,
Ach, loneliness is here without you,
My beloved one,
Hemm, what makes you go ?
You easily run away,
Why you have the heart ?
Leaving me, all alone again,
My dearest love,
Get back soon to my arms,
Bring back your smile,
Give your love day and night,
Here again in my place,
I open wide my arms,
With all my heart !!!
Just for my : Best Loved
Puisi Buat Seorang Sahabat Juli 22, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: bahagia, Best Friend, Mei, Sahabat, ulang tahun
284 comments

Sahabat,
Hari ini tanggal 1 Mei yang Bahagia bagimu,
Aku berharap dapat membawakan semua kemegahan bunga di bulan Mei untukmu,
Aku berharap dapat mengirimkan sebuah kejutan kebahagiaan untukmu,
Dengan berjuta corak warna
Dengan aneka keharuman bunga di bulan Mei,
Di bulan Mei yang indah ini,
Aku berharap,
Aku dapat menulis sebuah puisi untukmu,
Aku berharap,
Aku bisa melukismu, sebagai seorang Sahabat!
Namun aku tidak akan pernah mampu memberimu,
Karena aku tidak dapat mengekspresikan
perasaan ini,
Di dalam kehadiranmu,
Kau telah membawakan aku kegembiraan,
Kau membawakan aku rasa bahagia yang
tidak pernah berakhir,
Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan yang terdalam ini,
Karena hanya akan mengalir di dalam hatiku,
Selamanya … Selamanya …
Namun pada momen ini,
Aku dengan semua bunga di bulan Mei,
Aku dengan semua cahaya bintang,
Aku, ….diriku,
Pada hari yang indah pada tgl 1 Mei ini,
Mengucapkan,
Selamat Ulang Tahun, “Happy Nice Day for You !”
My Best Friend.
Sahabat,
Hari ini tanggal 1 Mei yang Bahagia bagimu,
Aku berharap dapat membawakan semua kemegahan bunga di bulan Mei untukmu,
Aku berharap dapat mengirimkan sebuah kejutan kebahagiaan untukmu,
Dengan berjuta corak warna
Dengan aneka keharuman bunga di bulan Mei,
Di bulan Mei yang indah ini,
Aku berharap,
Aku dapat menulis sebuah puisi untukmu,
Aku berharap,
Aku bisa melukismu, sebagai seorang Sahabat!
Namun aku tidak akan pernah mampu memberimu,
Karena aku tidak dapat mengekspresikan
perasaan ini,
Di dalam kehadiranmu,
Kau telah membawakan aku kegembiraan,
Kau membawakan aku rasa bahagia yang
tidak pernah berakhir,
Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan yang terdalam ini,
Karena hanya akan mengalir di dalam hatiku,
Selamanya … Selamanya …
Namun pada momen ini,
Aku dengan semua bunga di bulan Mei,
Aku dengan semua cahaya bintang,
Aku, ….diriku,
Pada hari yang indah pada tgl 1 Mei ini,
Mengucapkan,
Selamat Ulang Tahun, “Happy Nice Day for You !”
My Best Friend.
Pelantun Jalanan Juli 18, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: ibukota, Jalanan, pelantun, pengamen, pulang
4 comments
Pelantun Jalanan
Kabut dingin masih melukis wajah ibukota,
Semilir hawa pagi masih membungkam mata,
Kicau anak-anak kecil masih sepi karena masih lelap,
Air pagi masih sedingin es,
Tapi,
Kau sudah mulai berjalan,
Siap menyelusuri trotoar tuk ikut hilir mudik angkutan,
Yang kian beranjak sibuk lalu lalang,
Tangan cekatan memangul gitar usang,
Tak lama berselalang,
Sa’at kau ada di tengah penumpang,
Kau mulai buka salam,
Satu dua tembang kau lantunkan,
Suara parau keluar karena tak berbekal sarapan,
Petik gitar menggema ikuti sesak penumpang,
Setelah tembang kedua berkumandang,
Kau hentikan petikan dan alunan,
Memohon perhatian dan uluran,
Pelantun jalanan pamit,
Tapi bukan untuk pulang,
Untuk estafet ke ruang di seberang,
Demi mengais seutas rejeki,
Yang mungkin diberi,
Dari pribadi yang masih punya hati
Kupersembahkan untuk : Romli (pengamen jalanan)
ARTI MERDEKA BAGI SEORANG PAK HOLIL Juli 16, 2008
Posted by elindasari in Artikel.Tags: Bangkit, Indonesia, Pejuang kemerdekaan, Veteran
10 comments
Pagi ini sengaja kulangkahkan kakiku menuju sebuah istana kecil di sudut keramaian kota Metropolitan. Aku menuju istana mungil milik salah seorang veteran pejuang kemerdekaan kita. Sebut saja namanya pak Holil.
Lelaki rentah ini hidup bersama isterinya tercinta dan ketiga anaknya. Kebetulan anaknya yang perempuan telah menikah dan mengkaruniakan kepada mereka 2 orang cucu. Istana hidup anak & cucunya terletak bersebelahan yang hanya dibelah dgn dinding triplek alakadarnya sebagai pembatas. Kehidupan keluarga anak perempuannya secara finasial tidaklah terbilang sukses. Mungkin bolehaku berpendapat tak lebih meprihatinkan dengan kehidupan kedua orangtuanya.
Untungnya beliau masih mempunyai 2 orang anak laki-laki yang sudah dewasa dan belum menikah, yang bisa sedikit menopang kehidupan hari tua mereka. Yah, meskipun pengasilan ke dua anaknya ini, boleh dikatakan juga tak gemilang, karena profesi mereka hanya sebagai buruh kasar dan tukang ojek. Tapi mereka adalah anak-anak yang tahu diri & berbakti kepada kedua orangtuanya.
Meskipun kehidupan mereka di kota Metropolitan ini penuh dengan keprihatinan, tak ada kata-kata menyesal dari seorang Pak Holil juga keluarga, atas apa yang telah/ pernah lakukan untuk negeri ini.
Beliau begitu sempurna sebagai Pejuang Sejati menurut kacamata dan pandangan saya.
Istana mungil mereka ini hanya berukuran tak lebih dari 18 m2 dengan petak triplek yang penuh tembelan disana-sini. Nuansa cat yang sudah pudar. Lantai istana inipun hanya berhiaskan keramik combing-cambing, yang tak tentu ukuran dan corak warnanya. Tertempel di lantai dengan konsep design interior kontemporer ala kadarnya.
SECERCAH KENANGAN DESA PRAHARA Juli 14, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Desa, Indonesia, Merah Putih, Pejuang, Pertiwi
2 comments
Disini,
Di tanah desa prahara,
Pekik nyaring pejuang pernah berkumandang,
Teriak lantang, bergema tegar mengelegar,
Nyala api berkobar di setiap daratan,
Menerkam, memakan setiap korban,
Gubuk reot istana kami,
Lumbung padi jantung nadi kami,
Nyawa kakak, adik saudara kami,
Nyawa emak, bapak & handal taulan kami,
Kami hanya rakyat jelata,
Yang haus kemerdekaan dari penjajah,
Rela mati, perjuangkan pertiwi,
Demi tegaknya bendera negeri,
Diatas tanah tumpah darah kami,
Desa Prahara kami,
Tanah kelahiran kami,
Merdeka atau mati,
Untukmu Pertiwiku,
Kan kutancapkan didada,
Sampai nyawa ini tiada,
Merah putihku, Merah putihmu,
Indonesia, Indonesiaku, Indonesiamu,
Dibingkiskan untuk : Pejuang Kemerdekaan
PEREMPUAN KERETA ANGIN Juli 10, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: belahan jiwa, nafkah, perempuan, perkasa, rejeki
3 comments
PEREMPUAN
KERETA ANGIN
Ku hanya tahu,
Kau perempuan baya,
Rajin lewat di jalan kampungku,
Menggowes kereta angin,
Sa’at mentari masih enggan bangun,
Yang kutahu,
Sa’at kau gowes kereta anginmu,
Kau rajin menatap ke muka,
Penuh harap, penuh semangat
Bermandikan tetes peluh & keringat,
Aku tahu,
Kau perempuan baya “Perkasa”,
Berjuang mencari nafkah,
Atas nama cinta – kasih,
Buat menghidupi belahan jiwa,
Yang selalu menanti sejumput Rejeki,
Putaran jeruji kerete angin perempuan baya Perkasa !
Kupersembahkan untuk :
Mbah Parinem, pengojek kereta angin
RESEP PINTAR BAGI PEMEGANG KARTU KREDIT Juli 9, 2008
Posted by elindasari in Tips.Tags: Bebas Bunga, Bunga, Godaan, Gratis, Iuran Tahunan, Kompetitive, Nol Persen, Pembayaran Minimum, Period, personal finance, Terlambat membayar tagihan, Travel & Entertainment
16 comments
Disini saya sekedar sharing tentang Tips & tricks bagi pemegang kartu kredit agar tidak terlilit hutang yang mematikan, jadi saya ingin mengajak para pemegang kartu kredit melakukan resep-resep pintar dalam menggunakan kartu kreditnya.
(lagi…)






