jump to navigation

Mama Yang Aku Sayangi ! Maret 13, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Sekarang Pangeran kecilku sudah mulai bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK A). Hem, tak terasa ternyata dia sudah mulai besar sekarang. Sudah mulai pandai berceloteh tentang apa saja…Pangeran kecil…Kamu memang Pangerankku yang paling lucu !

<>

Masih kuingat, hari-hari pertama pangeran kecilku masuk sekolah. Langkah kaki kecilnya begitu lincah & mimik mukanya yang masih mungil penuh penasaran menuju sekolah.

Minggu pertama sengaja ku sempatkan diriku mengantarnya sampai ke sekolah bersama pengasuhnya. Kemudian ku tinggalkan pangeran kecilku mengikuti kelasnya hanya ditunggu pengasuhnya sampai jam pelajaran sekolahnya usai. Begitu pula untuk aktivitas kebutuhan si kecil lainnya sepanjang hari.

Maklum, bukannya aku tidak mau memperhatikan / memanjakannya, tapi karena aku punya tanggung jawab sebagai karyawati, so…mau tidak mau aku harus komit untuk tetap disiplin dan datang tidak terlambat ke kantor juga harus focus atas pekerjaan & kesibukkanku. Yach… meskipun sebenarnya hati kecilku ingin selalu dekat pangeran kecilku yang lucu.

Hari-haripun berlalu, Pangeran kecilkupun terbiasa dengan jadwal sekolahnya. Kulihat diapun semakin mandiri dan cukup mengerti kesibukanku.

Hem, dalam hati aku bersyukur…memiliki pengeran kecil yang sangat memaklumi kesibukkan aktivitasku. Terima kasih sayang, atas pengertianmu atas kesibukan Mama, ujarku tanpa pernah terucap untuknya.

Tak terasa, sudah hampir 8 bulan berlalu, bagi raport semester Pertama pun telah berlalu. Karena masih duduk di TK A (Kecil) maka nilai raportnya hanya berupa komentar-komentar dari gurunya tentang prilaku & tingkah laku si kecil selama di sekolah.

Ah… aku tak terlalu memusingkannya. Dalam pikiranku tidak ada target apapun buat pengeran kecilku. Yang terpenting menurutku dia sudah mau sekolah, sudah mulai belajar mandiri, sudah mulai bisa memegang alat tulis dan bersosialisasi dengan teman-teman seusianya, sudah merupakan suatu prestasi tersendiri bagiku.

Apalagi dengan latar belakang putra dari seorang wanita pekerja sepertiku, dan kebetulan dia adalah permata hatiku yang masih semata wayang. So…bila komentar diraportnya biasa-biasa saja…aku sudah cukup puas…hehehe !

Tapi hari ini kulihat kelakuan Pageran kecilku agak beda dari hari-hari sebelumnya. Aku sempat menanyakan hal ini kepada pengasuhnya.

Tapi pengasuhnya hanya memberi komentar pendek, “Iya bu..sekarang pangeran cepat ngambek !” jawab pengasuhnya.

“O,yach kenapa ?”, tanyaku lagi.

“Nggak tahu bu !”, jawab pangasuhnya lagi.

Dua hari kemudian, sepulangnya aku dari kantor kudapati pangeran kecilku sedang ngambek lagi. Sambutan riang bila aku pulang, dua hari ini tak kurasakan. Pangeran kecilku tidak menyongsong kedatangku seperti biasanya. Pangeran kecilku malah pura-pura sibuk dengan buku cerita yang dibelikan papanya minggu lalu.

(Ah, paling bosan dengan mainnya, pikirku dalam hati. Tanpa berpikiran yang lebih jauh).

Sebaiknya aku mandi dulu. Kuperhatikan suamiku masih sibuk dengan Koran & tabloid otomotif kegemarannya. Tak lama kemudian aku dan suamiku makan bersama. Tapi lagi-lagi pangeran kecilku ngambek tidak mau makan malam bersama.

Kupikir dia tidak suka dengan menu hari ini.

“Yah, sudahlah, tidak usah dipaksa kalau nggak mau makan mbak !”, ujarku pada pengasuhnya yang mulai lelah membujuknya agar mau makan malam.

“Nanti sebelum bobok malam buat susu yang lebih kental dari hari biasanya saja, ya mbak !”, pintaku kepada pengasuhnya.

Menjelang tidur malam, kucoba memeluk pangeran kecilku seperti biasanya.

“Selamat bobok sayang, good night….my boy !”, ujarku sambil mengantar pangeran kecilku menuju kamarnya.

Tapi tiba-tiba isak tangis pangeran kecilku mulai pecah.

Pangeran kecilku berkata, “Ma, aku bodoh yach ?”.

“Enggak !”, jawabku agak gagap penuh tanya.

Kenapa sayang ?”, tanyaku sambil tetap memeluknya dengan erat.

Berjuta pertanyaan menghujani pikiranku. Oh…Tuhan ada apa ini ? Apa yang telah dialami pangeran kecilku sehingga menangis begitu sedihnya ? Berjuta pertanyaan memenuhi ruang pikiranku. Hatiku begitu galau.

“Cup…cup sayang…bilang sama Mama ada apa sayang ?”, ujarku mencoba menenangkan pangeran kecilku. (Padahal air mataku pun tak kuasa kubendung).

“Mama…aku nggak bisa baca tulisan bu guru di sekolah. Aku nggak bisa pulang cepet seperti temen-temen lain !, jawab pengeran kecilku terbata-bata diiringi isak tangis sambil sesegukan!

“Sayang besok kita belajar baca yach !”, hiburku pada pengeran kecilku.

(Ternyata dikelasnya rata-rata temannya sudah bisa mengeja dan membaca tulisan yang ditulis ibu gurunya. Belakangan ini gurunya sengaja memberikan surprise sebagai hadiah dengan memberikan kesempatan untuk pulang lebih dulu bagi murid yang bisa membaca tulisan yang ditulis ibu gurunya, menjelang sesi pulang. Dan sedihnya pangeran kecilku tak pernah bisa membaca tulisan tersebut, karena belum hafal abjad apalagi untuk membaca. O…oooo)

Malam ini sengaja aku lalui tidur dengan pangeran kecilku. Sebagai obat penebus rasa bersalahku kepadanya selama ini. Oh, Tuhan…betapa egoisnya aku selama ini. Seribu sesal seakan menghantam hati dan perasaanku.

(Betapa menyedihkan diriku sebagai seorang ibu…lagi-lagi aku bergumam dalam hati, menyesali kelalaianku selama ini).

Tak lama dia pun tertidur dalam dekapaku. Air matakupun menetes membasahi bantal yang aku tiduri bersama pangeran kecilku. Dalam hati, aku berjanji bahwa aku harus menebus keteledoranku selama ini. Aku berjanji untukku dan pangeran kecil yang aku sayangi untuk meluangkan waktuku lebih lama bersamanya, minimal qualitas kebersamaanku dengannya lebih dari yang sekarang kulalui.

Tapi aku tetap bersyukur.

Terima kasih Tuhan…lewat celoteh kecilnya…Kau sadarkan aku dari segudang kesibukkanku, kelalaiaku selama ini. Oh…mengapa aku begitu hanyut dalam keegoisanku selama ini. Lagi-lagi aku bergumam menyesali kelalaianku.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai bersinar terang. Kulihat pangeran kecilku mulai kembali riang berceloteh. Mungkin dekapanku semalam telah sedikit menghibur kesedihannya.

Setelah sarapan bersama, sengaja kuajak pangeran kecilku dan suamiku ke toko buku yang cukup termasyur di kota ini. Disana sengaja kuborong berbagai macam buku belajar membaca. Mulai dari yang penuh gambar sampai latihan menulis. Berbagai jenis buku sengaja kuborong, termasuk buku-buku cerita yang kunilai cukup bagus buat pengeran kecilku.

Kusaksikan pangeran kecilku ikut sibuk mencari buku-buku yang masuk nominasi pilihan hatinya.

“Ma, aku mau buku yang ini, yang ini, yang ini juga, sama pensil, kotak pensil !”, pintanya girang.

“Ya, ambil semua yang Pangeran suka, nanti kita belajar baca & nulis yach !”, ujarku penuh semangat.

Tak lama kemudian aktivitas di toko bukupun selesai.

Nah, mulai hari ini aku telah mentargetkan untuk mengajarkan pangeran kecilku membaca. Sengaja aku menyempatkan untuk pulang kantor ontime, agar aku punya waktu lebih leluasa dengan pangeran kecilku.

Selepas dari kesibukkanku dikantor, semua aktivitas baik di rumah, di mobil, di taman, dimana saja, aku hubungkan dengan huruf / abjad. Semua benda, semua aktivitas bersama pangeran kecilku, aku coba hubungkan dengan pola belajar merangkai huruf menjadi kata, menjadi kalimat. Lalu fase latihan menulis.

(Ternyata suamikupun mulai tersenduh dengan semangatku untuk mengajarkan si kecil agar bisa membaca).

Ketika menjelang tidur malam, suamikupun sudah turut mengenalkan & mengingatkan pangeran kecilku tentang huruf yang akan mulai dirangkai menjadi sebuah kata.

“Huruf I mana yach ?”, ujarnya sambil mengantar pangeran kecilku ke kamar.

“Ini !”, jawab pangeran kecilku sambil memeluk guling kesayanganya. O..o..ternyata guling identik dengan huruf “I”

“Huruf B mana yach ?”, ujarnya sambil menidurkan pangeran kecilku ditempat tidur.

“Itu !”, jawab pangeran kecilku sambil menunjukkan sebuah huruf “B” yang sengaja kutempel di langit-langit kamarnya.

Aha…rumahku kini ramai dengan pernak-pernik abjad dan kata yang sengaja kutempel sebagai media belajar.

“Hem… interiornya jadi lumayan unik”, hiburku dalam hati sambil memperhatikan hiasan rumahku yang mulai berubah dari semula tatanan modern minimalis menjadi mirip ruang taman-kanak-kanak. Hehehe…

Ya.. begitulah seterusnya. Secara meraton, sebelum tidur, ketika mandi, ketika di mobil ketika belanja, ketika bermain, aku dan suamiku mencoba mengajarkan berbagai huruf, lalu menjadi kata dan akhirnya jadi kalimat, yang akhirnya dengan fasih bisa dijawab oleh pangeran kecilku.

Meskipun waktu luangku kurasakan begitu sempit, aku tak mau membiarkan pangeran kecilku ketinggalan kepandaian untuk teman-teman sebayanya. Apalagi moment-moment yang penuh kegembiraan bersamaku. Aku akan melakukan yang terbaik untuknya.

Alhamdulillah, setelah +/- 3 bulan, pangeran kecilku sudah pandai membaca. Malah sekarang dia sudah mahir membaca buku-buku cerita yang bertema pengetahuan buat si kecil. Amboi…

Nah, itu sekelumit cerita ketika pangeren kecilku masih duduk di bangku TK A (kecil).

Kini, pengeran kecilku sudah duduk di TK B. Aku boleh sedikit lega dan bangga, karena pangeran kecilku termasuk murid yang pandai membaca dan mengarang di kelasnya. Kepandaian pangeran kecilku mengarang secara tak sengaja kuketahui dari hasil coret-coretnya di buku agenda – agenda yang pernah kuberikan padanya untuk latihan menulis atau sekedar mencoret-coretkan kata hatinya.

Hem, secara tak sengaja aku sempat menemukan beberapa tulisan pengeran kecilku. Isinya lucu-lucu, unik. Penuh kejutan yang tak pernah kusangka.

(Maaf kalau disini aku terkesan terlalu memuji pangeran kecilku).

Salah satunya mungkin bisa kukategorikan sebagai sebuah sajak /puisi untukku. Isinya :

Mama yang Aku Sayangi Mama kamulah mama yang aku sayangi,Mama yang selalu menemaniku,Mama yang selalu mengajariku,Mama yang selalu menyayangiku, Mama aku sayang banget sama mama, Mama, walaupun mama nggak pernah tunggui aku disekolah,Walaupun Mama nggak bisa temani aku tiap hari,Tapi aku tetap sayang banget sama Mama,Mama, kamulah mama yang aku sayangi,

dari: “Pangeran”

Tak terasa air mata ini mengalir kembali ketika kubaca sajak/ puisi dari coretan pangeran kecilku. Tapi kali ini air mata bahagia, karena dadaku terasa sesak dan rasa haru penuh bahagia.

Terima kasih Tuhan karena telah “KAU” hadirkan pengeran kecil yang sangat menyayangiku.

Semoga cerita tersebut bisa memberikan inspirasi & manfa’at. Amien.

About these ads

Komentar»

1. Resi Bismo - Maret 13, 2008

anak kecil sekarang tk sudah bisa baca yach, saya baru bisa baca pas kelas 2 SD. Btw anaknya sudah besar yah mbak! semoga lekas dewasa deh anaknya dan soleh. amiin.

2. elindasari - Maret 13, 2008

Iya, Terima kasih yach Mas Ario !. Selamat Beraktivitas kembali !

Best Regard,
Bintang

3. Rezki - Maret 15, 2008

Nggak di ajarin nulis di blog? :D

@Hehehe, sekarang masih diajari untuk latihan mengetik. Rencananya ada ! Thank yach Rezki atas kunjungannya !

Best Regard,
Bintang

http://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: